Showing posts with label Takut. Show all posts
Showing posts with label Takut. Show all posts

Sunday, December 9, 2018

Takut Sebagai Suatu Cara Hidup

Jika seseorang bisa memperlihatkan anda sebuah pill asing yang akan menghilangkan semua ketakutan anda, bagaimana anda akan menjalani hidup anda secara berbeda?

Jika anda tidak terlalu risau ihwal berhati-hati dan menghindari resiko, apa yang ingin anda lakukan? Siapa saja yang ingin anda temui? Kemana anda ingin bepergian? Apa yang akan anda katakan pada seseorang? Akan berubah menyerupai apa diri anda? Ingin menjadi menyerupai siapa anda?

Jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut akan mengungkapkan apa saja kerugian yang telah disebabkan oleh sebuah gaya hidup yang penuh dengan ketakutan. Dan jawaban-jawaban tersebut menyiratkan bagaimana kehidupan anda akan berbeda jikalau anda bisa lebih damai dan yakin, bukannya khawatir dan was-was.

Saya yakin anda tahu bahwa rasa takut itu yakni suatu duduk masalah bagi anda (atau seseorang yang anda cintai). Sebab jikalau tidak, maka anda tidak akan membaca goresan pena ini. Tapi anda mungkin tidak menyadari bagaimana rasa takut itu telah membatasi kemampuan anda untuk menikmati hidup, bekerja secara kreatif, dan bebas mencintai.

Berikut ini beberapa duduk masalah yang sering ditimbulkan dari suatu gaya hidup yang dipenuhi dengan rasa takut:

1. Membatasi pemikiran. Rasa takut itu bisa membatasi kemauan anda, bahkan untuk sekedar mempertimbangkan banyak sekali kemungkinan yang lebih luas dari sekedar pilihan-pilihan sempit yang dibentuk menurut prasangka awal.

  • Anda mungkin terjebak ke dalam sebuah pola yang merefleksikan penolakan.
  • Anda mungkin menghabiskan terlalu banyak energi untuk mencari-cari kesalahan dari semua hal, dari pada untuk mempertimbangkan kebaikan atau mencari arah agresi yang lebih baik dari suatu situasi.
  • Anda mungkin melemahkan diri sendiri dengan cara mengkhawatirkan semua kemungkinan negatif, halangan, rintangan, jebakan, duduk masalah atau bencana yang mungkin akan terjadi jikalau anda mencoba sesuatu yang baru.
  • Anda mungkin merespon saran dan penawaran dari orang-orang dengan cara membiarkan rasa takut yang berbicara: “Itu tidak masuk akal?” atau “Itu tidak mungkin?”

2. Membatasi pilihan. Rasa takut bisa sangat mengurangi variasi dari banyak sekali pilihan sepanjang hidup, contohnya orang-orang yang bisa anda temui, karir yang bisa anda kejar, perjalanan yang bisa anda lakukan, kesenangan yang bisa anda dapatkan, dan semua itu akan sangat mengurangi pilihan yang anda miliki.

  • Bukannya mencoba menjelajahinya, anda mungkin jadi merasa takut terhadap dunia.
  • Anda mungkin lebih memandang hidup sebagai sebuah beban, bukannya suatu petualangan.
  • Anda mungkin menyampaikan pada diri sendiri, “Ada begitu banyak ancaman diluar sana” bukannya, “Ada begitu banyak hal luar biasa yang bisa dilakukan.”
  • Anda mungkin membayangkan bahwa anda tidak punya pilihan lain kecuali hidup di dalam zona nyaman anda yang sangat sempit, kemudian mengeluh, “Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, lantaran saya tidak punya banyak pilihan.”

3. Membatasi aktivitas. Rasa takut itu bisa memperingatkan anda untuk memperkecil jangkauan aksi-aksi kreatif yang ingin anda ambil.

  • Anda mungkin menghindari peluang-peluang profesional, sosial atau finansial, meski itu memperlihatkan begitu banyak manfaatnya.
  • Anda mungkin jadi terbiasa untuk menolak banyak sekali undangan atau menolak untuk “mengejarnya” dari pada mengevaluasi banyak sekali kemungkinan dengan pikiran terbuka.
  • Anda mungkin “bersembunyi dalam rasa takut” dan menolak kemungkinan banyak sekali acara lantaran “aku merasa tidak nyaman dengan itu” atau lantaran “aku tidak bisa melaksanakan itu.”

4. Mengurangi kecerian, kesenangan, dan kenikmatan dalam hidup. Sulit untuk bisa menikmati diri sendiri jikalau begitu banyak energi yang anda hasbiskan untuk merasa takut.

  • Secara fisik, anda mungkin merasa sangat kelelahan dan merasa hampa secara emosional.
  • Anda mungkin merasa bahwa tugas-tugas yang memerlukan kreativitas itu sulit, bahkan mustahil untuk bisa dikerjakan.
  • Anda mungkin memandang persahabatan dan cinta itu lebih sebagai sumber dari sesuatu yang melelahkan, bukannya sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan.
  • Anda mungkin merespon setiap pengalaman gres dengan keluhan dan kecemasan (“Ini terlalu menakutkan! Aku tidak biasa melaksanakan ini! Aku tidak bisa mengatasi begitu banyak ketidak-pastian!”) dan bukannya dengan antusias dan kegembiraan (“Wow! Ini menyenangkan! Aku sangat menyukainya! Aku senang lantaran sudah mencobanya! Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa!”).

Saat rasa takut membatasi, menghalangi, merintangi, dan mengurangi kebebasan dan kegembiraan dari kehidupan anda, maka yang akan tersisa hanyalah situasi sehari-hari yang rutin, menjemukan dan membosankan, juga momen-momen menakutkan, krisis, serta bencana yang tidak bisa kita hindari. Padahal kehidupan tidak harus menyerupai itu.

Butuh bertahun-tahun bagi Ilana untuk memahami bahwa resiko itu yakni suatu kepingan penting dari kehidupan yang tidak selalu bisa di hindari.

Dia hasilnya menyadari, bahwa ia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk fokus pada banyak sekali ancaman dan resiko sehingga menghilangkan semua aspek luar biasa dan menyenangkan dari kehidupannya. Kehidupannya tidak lebih dari sekedar “kesialan demi kesialan.”

Karena telah membuang keceriaan dan kesenangan dari kehidupannya, ia menjadi sempoyongan di bawah tekanan “Aku harus menanggung beban ini.”

Utamakan Selamat — Kisah Jake

Butuh bertahun-tahun bagi Jake untuk memahami bahwa “utamakan selamat” itu bukanlah cara terbaik untuk menjalani hidup. Saat ini, di usianya yang menginjak lima puluhan, Jake telah melewati masa perpanjangan dari rasa takut yang telah menghantuinya semenjak simpulan masa cukup umur hingga awal dua puluhan.

Meski berbakat dan sangat terlatih sebagai seorang gitaris klasik, tapi Jake merasa takut untuk mengejar karir musiknya, dan merasa ragu untuk menjelajahi peluang lain yang tersedia baginya.

Karena merasa takut akan kegagalan dan penolakan, ia menarik diri dari apa yang telah ditawarkan oleh kehidupan, baik itu dibidang personal maupun profesional.

Dia menemukan pekerjaan sebagai ajun perawat di sebuah rumah sakit begitu menginjak usia 22 tahun.

Jake beralasan bahwa pekerjaan ini akan berfungsi untuk mendukung “hobby musik” nya, sebagaimana ia menyebutnya, sama menyerupai pemusik, penulis dan pemain film lain yang seringkali harus bekerja di restoran atau toko retail untuk mencukupi dirinya.

Teman dan kerabatnya seringkali bertanya kenapa ia lebih menentukan pekerjaan yang begitu berbeda dari aspirasi artistiknya. Dia menjawab bahwa ia senang bekerja dengan para pasien, dan pekerjaan di rumah sakit membuatnya bisa memenuhi kebutuhannya.

Meski ia tidak mau mengakuinya, tapi Jake tahu bahwa dengan bekerja sebagai ajun perawat itu juga membuatnya bisa menghindar dari keharusan untuk mengambil keputusan yang berat mengenai karir musiknya.

Karena merasa takut bahwa ia tidak akan bisa untuk sukses sebagai gitaris klasik, ia lebih menentukan untuk memendam impiannya dan membiarkan banyak sekali peluang untuk pergi menjauh.

Perasaan aib yang dimiliki Jake juga telah menghalangi kemampuannya untuk menjalin dan mempertahankan hubungan romantis. Meski sering bertemu dengan wanita-wanita muda yang elok dan menarik, tapi ia sangat jarang berkencan.

Karena lebih termotivasi oleh rasa takut ketimbang hasrat, ia menjauhkan diri dari mengambil resiko. Dia tidak percaya bahwa ada perempuan yang benar-benar menyukainya meski mereka memperlihatkan ketertarikan.

Ironisnya, ketika Jake benar-benar jatuh cinta beberapa tahun kemudian, ia menentukan pasangan seorang perempuan pengkritik yang berlawanan secara emosional, yang menguatkan opini negatifnya mengenai dirinya dan kecurigaannya bahwa romantisme itu yakni resiko yang tidak bisa diterima. (Orang yang mempunyai kebutuhan neurotic itu punya kemampuan asing untuk saling menarik satu sama lain — bahkan dari daerah yang saling saling berjauhan.)

Bertahun-tahun kemudian, Jake menyadari bahwa ia telah ditenggelamkan oleh ketakutannya akan perubahan — dan rasa takutnya terhadap potensinya sendiri. Andai saja ia dulu tahu mengenai apa yang gres ketika ini diketahuinya.

Tapi, menyerupai kata filsuf Denmark Søren Kierkegaard, hidup itu harus dijalani kedepan, tapi kita hanya bisa memahaminya dengan cara melihat kebelakang.

Bagaimana Dengan Rasa Takut Anda?

Kisah Jake hanyalah salah satu rujukan mengenai bagaimana gaya hidup yang penuh ketakutan bisa membatasi seseorang yang bekerjsama cemerlang, energik dan terampil.

Jika rasa takut anda tidak terkendali, kemungkinan bahwa anda merasa hidup itu penuh ancaman dan menyeramkan — sebagai suatu kejadian menyeramkan demi kejadian menyeramkan lainnya.

Meski situasi anda mungkin tidaklah sedramatis itu, tapi keprihatinan dan kegelisahan anda bisa tetap merusak kualitas dan hakekat dari kehidupan anda.

Hidup dalam ketakutan itu tidak harus berarti bahwa anda menjadi sangat takut atau tidak bisa berfungsi normal; dan memang, sindrom dari sikap dan sikap takut itu bisanya lebih halus.

Ada banyak variasi dan cara yang dipakai orang untuk mengekspresikan rasa takut. Berikut ini beberapa yang paling umum:

  • Dengan mengisolasi diri
  • Dengan menjadi terlalu tunduk pada orang lain
  • Dengan menjadi terlalu waspada
  • Dengan mematikan perasaan
  • Dengan menghindari keakraban
  • Dengan menghindari penolakan atau ketidak-setujuan
  • Dengan menjadi terlalu mengontrol
  • Dengan menolak untuk merespon pada semua situasi yang dihadapi
  • Dengan menyebarkan apa yang oleh para psikolog disebut deretan reaksi — berperilaku yang berlawanan arah dari apa yang anda rasakan, contohnya bertindak macho atau menghinakan diri atau tidak hirau terhadap rasa takut anda sendiri.

Rasa takut juga mungkin bersembunyi dalam suatu kebutuhan yang sangat berpengaruh akan keamanan, atau rasa takut anda mungkin bersembunyi dalam bentuk keraguan, ketidak tegasan, ketidak pastian, kecemasan, atau kekakuan.

Atau, anda mungkin merasa sedikit takut dalam bidang fisik (“Tidak ada yang bisa saya lakukan”) tapi merasa sangat takut dibidang emosional (“Aku merasa takut kesepian” atau “Aku merasa sangat takut mengenai apa yang dipikirkan orang lain mengenai diri ku”).

Berbagai dampak dari suatu gaya hidup yang penuh ketakutan ini biasanya di ekspresikan dalam banyak sekali variasi kombinasi, dan efek-efek kumulatifnya pada setiap orang bisa berbeda-beda, mulai dari merasa agak kurang nyaman hingga paralysis atau panik.

Suatu Cara Hidup, Bukan Suatu Diagnosa

Sebelum kita melanjutkan, Saya ingin membedakan antara rasa takut yang berlebihan dan tidak perlu sebagai suatu diagnosa medis, dengan rasa takut sebagai suatu pendekatan menurut pengalaman terhadap kehidupan.

Banyak dari kita yang cenderung untuk menganggap rasa takut itu sebagai suatu penyakit mental — contohnya phobia, reaksi panik, reaksi kecemasan, dan posttraumatic stress disorder (PTSD).

Meski semua itu memang yakni suatu gangguan, tapi disini saya memandang rasa takut dari sisi non-medis — bukan sebagai hasil diagnosa atau suatu penyakit, melainkan sebagai suatu pola dari pengalaman yang telah kita pelajari dan yang bisa kita lupakan (tidak pelajari lagi).

Tulisan ini memfokuskan pada diri seseorang secara utuh, bukannya sekedar setumpuk tanda-tanda kecemasan. Tulisan ini menekankan bagaimana cara mencapai kehidupan yang memperkaya, bukan menekankan pada kehidupan yang menyusahkan.

Orientasinya sama menyerupai perbedaan antara mengatasi duduk masalah berat tubuh dengan cara berdiet versus menyebarkan suatu pola makan yang sehat.

Berdiet itu yakni suatu solusi jangka pendek, dengan sedikit kemungkinan untuk sukses dalam jangka panjang. Sedangkan pola makan yang sehat itu yakni pendekatan berorientasi solusi kualitas hidup jangka panjang.

Penekanan saya disini yakni menjauh dari suatu rujukan penyakit mental (Apa yang salah dengan diri anda?) dan mendekat ke arah kesejahteraan mental (Apa yang akan memperkaya hidup anda?).

Tapi jika, menyerupai yang saya isyaratkan, sebuah gaya hidup yang penuh ketakutan itu tidaklah mesti suatu penyakit mental, kenapa itu bisa tetap menjadikan begitu banyak kerusakan ke dalam hidup anda? Dan bagaimana itu bisa berkembang?

Kita akan mengamati topik tersebut secara lebih detil pada kepingan ketiga, dan untuk ketika ini saya hanya akan membahasnya secara singkat.

Sebuah gaya hidup yang penuh ketakutan bisa berkembang dengan banyak sekali cara, tapi satu hal yang pasti, jikalau anda terlalu sering mengalami rasa takut, terlalu intens, atau untuk waktu yang terlalu usang — terutama ketika anda masih berusia muda — maka anda akan menyebarkan suatu kondisi pikiran yang mempengaruhi bagaimana anda menjalani hidup dalam dunia ini.

Bukannya menjadi suatu cara untuk merespon terhadap situasi spesifik, rasa takut malah menjadi suatu cara hidup.

Apa yang saya gambarkan yakni analogi terhadap perbedaan antara merasa murka dalam merespon terhadap seseorang yang mengejek anda (suatu reaksi yang masuk akal terhadap situasi spesifik) dengan menjadi seseorang yang pemarah (suatu cara hidup).

Atau itu menyerupai perbedaan antara merasa duka ketika kehilangan seseorang (suatu respon masuk akal terhadap situasi spesifik) dengan menjadi seseorang yang melankolis (suatu cara hidup).

Saat takut menjadi prioritas dalam hidup anda, maka gaya hidup anda itu diarahkan untuk mengakomidasi ketakutan, bukannya mengatasinya. Anda cenderung selalu waspada terhadap banyak sekali ancaman — ancaman dalam pekerjaan, ancaman di rumah, ancaman dalam hubungan anda, ancaman dalam dunia yang lebih besar.

“Mengawasi” menjadi suatu mentalitas di mana pikiran anda selalu berada dalam keadaan waspada terhadap bahaya. Anda cepat merespon dengan rasa takut bahkan terhadap situasi-situasi yang tidak mengancam.

Anda jadi berguru untuk menghindari resiko-resiko yang bekerjsama perlu, sehingga menghalangi anda dari mendapat pengalaman yang bisa jadi bermanfaat untuk anda dalam jangka panjang. Anda menyebarkan suatu kebutuhan akan keamanan tidak pernah puas. Singkatnya, rasa takut menjadi suatu mind-set atau pola pikir.

Meski anda mungkin berkhayal ihwal suatu kehidupan yang aman, tentram dan pasti, tapi dalam kehidupan nyata, kualitas-kualitas ini hanya bisa bersifat relatif. Tidak ada keamanan yang absolut. Hidup itu yakni suatu bisnis yang beresiko.

  • Dengan hidup, kita beresiko untuk mati.
  • Dengan mencintai, kita beresiko untuk kehilangan.
  • Dengan merasa, kita beresiko untuk tersakiti.
  • Dengan belajar, kita beresiko untuk merasa bodoh.
  • Dengan mencoba, kita beresiko untuk gagal.
  • Dengan berbicara, kita beresiko untuk merasa konyol.
  • Dengan sukses, kita beresiko untuk mencapai batasan-batasan kita.

Bisakah anda mengambil langkah-langkah tertentu untuk meminimalkan banyak sekali resiko ini? Tentu.

Akankah anda bisa mengeliminasi semua resiko? Tidak akan pernah.

Karenanya, bagaimana anda bisa menjalani hidup dengan resiko-resiko ini? Bagaimana anda bisa menemukan cara untuk mengatasi rasa takut, ragu, dan ketidak pastian?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan kita jawab.

Takut itu yakni Suatu Respon Adaptive (Terkadang)

Bagaimana anda bisa tahu apakah rasa takut anda itu yakni adaptive, yang membantu anda untuk bertahan hidup,  siaga, dan berhati-hati secara tepat?

Bagaimana anda tahu apakah rasa takut anda itu maladaptive, yang tidak menguntungkan dan menciptakan kehidupan, pekerjaan, dan cinta menjadi sulit bahkan tidak mungkin? (bagi sebagian orang)

Berikut ini quiz singkat yang bisa membantu anda untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penting tersebut:

Apakah Rasa Takut Anda Adaptive atau Maladaptive?

Jawab dengan salah atau benar setiap pernyataan berikut ini yang menggambarkan rasa takut anda secara umum:

  1. Rasa takut ku biasanya membantu ku dalam menghadapi tantangan, ancaman, dan ketidak pastian tertentu.
  2. Rasa takut ku yakni respon terhadap banyak sekali situasi yang mungkin atau mungkin juga tidak mengancam atau berbahaya.
  3. Rasa takut ku itu sesuai dengan tingkat tantangan, ancaman, atau ketidak pastian yang sedang saya hadapi.
  4. Rasa takut ku itu tidak sesuai dengan tingkat tantangan, ancaman, atau ketidak pastian yang sedang saya hadapi.
  5. Rasa takut ku itu relatif terbatas waktu; ia meningkat pada ketika bahaya, kemudian berangsur menghilang.
  6. Rasa takut ku cenderung untuk terbuka dalam waktu juga fokus; pada waktunya itu mungkin yakni suatu kondisi pikiran yang terus menerus, generalisasi.
  7. Rasa takut ku berakhir dengan suatu perasaan lega ketika saya sukses mengurangi atau menghilangkan sumber ketakutan.
  8. Rasa takut ku tetap bertahan bahkan ketika sumber ketakutan menghilang atau berakhir.
  9. Rasa takut ku bervariasi terkantung pada tingkat ancaman.
  10. Rasa takut ku tidak selalu bervariasi sesuai dengan tingkat bahaya.

Untuk menilai hasil anda, jumlahkan balasan benar untuk pernyataan dengan nomor ganjil; kini jumlahkan balasan benar untuk pernyataan dengan nomor genap.

Semua pernyataan dengan nomor ganjil membuktikan reaksi yang bisa dikelompokkan sebagai rasa takut adaptive. Sedangkan semua pernyataan dengan nomor genap menggambarkan reaksi yang bisa dikelompokkan sebagai rasa takut maladaptive.

Jika anda punya lebih banyak balasan benar untuk pernyataan dari nomor ganjil dibanding genap, berarti rasa takut anda itu lebih kearah adaptive dibanding maladaptive.

Rasa takut adaptive yakni suatu emosi yang telah menyelamatkan nyawa banyak orang dalam situasi-situasi yang sulit. Rasa takut adaptive itu seringkali perlu dan tepat; itu memperingatkan kita akan ancaman yang real. Jika skore anda tinggi untuk rasa takut adaptive, selamat. Rasa takut anda telah bekerja untuk membantu anda.

Jika anda punya lebih banyak balasan benar untuk angka genap dibanding ganjil, berarti rasa takut anda itu lebih kearah maladaptive ketimbang adaptive, dan anda punya kiprah perlu dikerjakan. Rasa takut seharusnya muncul ketika diperlukan tapi ia dihentikan mengontrol anda jikalau tidak bermanfaat atau melindungi.

Rasa takut adaptive itu yakni suatu nuansa emosi yang berangsur menghilang selama masa-masa aman, sedangkan rasa takut maladaptive selalu tersembunyi dipermukaan, dan akan segera muncul untuk menampakkan kehadirannya setiap kali ada ketidak nyamanan, ketidak pastian, atau perubahan.

Nah kini kita sudah tahu bagaimana rasa takut bisa merusak kehidupan anda, mari kita melihat pada banyak sekali cara orang dalam mengekspresikan ketakutannya.


Baca Juga: Build Item Hero Fasha Recommended - Mobile Legends

Cara Mengekspresikan Rasa Takut

Orang mengekspresikan rasa takutnya dalam aneka macam cara. Yang sangat bervariasi itu memang bukan cuma apa yang mereka takuti, tapi juga cara mereka mengekspresikan ketakutannya.

Banyak dari kita yang sadar, misalnya, bahwa seringkali ada perbedaan antara bagaimana laki-laki dan perempuan mengekspresikan ketakutannya. Di mulai semenjak masa kanak-kanak, anak perempuan punya lebih banyak pola untuk mengekspresikan ketakutannya, baik dalam kehidupannya nyata, dalam buku, televisi, maupun film.

Banyak wanita, juga sebagian pria, yang dilatih untuk menjadi berhati-hati, takut, bahkan sangat takut. Sebagian mendapatkan pesan-pesan dari orang bau tanah dan lingkungan yang menganjurkan atau bahkan memperlihatkan reward untuk rasa takut.

Adalah lebih bisa diterima secara sosial bagi perempuan untuk mengakui dan mengekspresikan rasa takutnya secara langsung. Bagi sebagian orang, itu bukan cuma bisa diterima, tapi juga hampir diwajibkan.

“Kemana pun saya pergi sebagai seorang remaja,” seorang sobat memberi tahu saya, “ibu saya selalu mengatakan, ‘Hati-hati.’ Tidak problem apakah saya akan pergi ke sekolah, jalan-jalan, atau mengunjungi sobat ku.

Tapi pada adik lelaki ku ibu tidak akan mengatakan, ‘Hati-hati,’ ia akan menyampaikan ‘Jangan nakal.’ Jika ia nakal, orang bau tanah ku akan merasa sedikit kesal, tapi mereka akan merespon dengan kata-kata sambil kemudian misalnya, ‘Namanya juga anak laki-laki.’

Tapi kalau saya yang bermasalah, mereka mengatakan, ‘Kan ibu sudah bilang untuk berhati-hati!’ Ada kepanikan bahkan histeris dalam nada bunyi mereka: ‘Kau bisa diculik, diperkosa, atau dibunuh”

Pria tentu juga merasa takut, tapi masyarakat kita mengajarkan mereka untuk mengabaikan, menolak, atau mengingkarinya. Pria sering memperlihatkan rasa takut secara tidak eksklusif — dengan menjadi marah, mabuk, menjadi penyendiri, atau menghindari situasi-situasi yang mereka tidak tahu cara mengatasinya.

Bahkan suatu situasi rutin, contohnya harus bergantung pada orang lain untuk meminta informasi, mungkin akan menimbulkan rasa takut dan suatu desakan atau pengingkaran rasa takut.

Banyak laki-laki yang harus berjuang dengan rasa takut yang intens tanpa ada cara untuk mendiskusikan, mengekspresikan atau bahkan mengetahui apa yang membuat mereka khawatir.

Meski fakta bahwa rasa takut laki-laki itu lebih tersembunyi — atau mungkin alasannya ini — tapi rasa takut mereka seringkali menjadi lebih dalam dan lebih membebani.

Apa yang membuat anak laki-laki dan laki-laki relatif lebih enggan untuk mengakui atau menandakan rasa takut?

Seiring waktu ketika anak laki-laki mencapai usia 5 atau 6 tahun, para laki-laki umumnya mempunyai pesan internal bahwa rasa takut itu tidak “jantan” dan harus disembunyikan atau di ingkari.

Nantinya, selama tahun-tahun sekolah, budaya yang secara umum dikuasai menempatkan anak  laki-laki untuk mengejek, mengganggu, atau bahkan menghukum secara fisik anak laki-laki lain yang mengekspresikan rasa takutnya secara terbuka.

Seorang anak laki-laki yang tidak menekan rasa takutnya mungkin akan dilabeli seorang “banci,” “penakut,” atau “pengecut.”

Ini menjadikan laki-laki dan perempuan secara umum mendapatkan pesan-pesan yang jauh berbeda ihwal mengakui rasa takut dan ihwal bentuk menyerupai apa rasa takut itu bisa di ekspresikan.

Namun, pertanyaan dasar disini bukanlah apa yang umumnya dirasakan oleh laki-laki dan wanita, melainkan apa yang anda (sebagai individu) rasakan secara spesifik. Apakah anda merasa bahwa rasa takut itu telah merusak kemampuan anda untuk menikmati hidup dan mencapai target? Dan dalam bentuk apa rasa takut itu anda ekspresikan?

Bagaimana Cara Anda Mengekspresikan Rasa Takut?

Meski rasa takut hanya dimulai sebagai suatu bentuk emosi, tapi seiring waktu itu bisa membuat suatu konsep diri dan gaya kepribadian.

Untuk membantu anda semoga lebih memahami bagaimana anda mengekspresikan rasa takut, berikut ini serangkaian quiz yang bisa anda isi dan beri nilai. Hasilnya akan memperlihatkan anda suatu pemahaman yang terperinci mengenai cara anda mengekspresikan rasa takut.

Dibagian bawah setelah quiz ini, saya akan menjelaskan 5 cara utama untuk mengekspresikan rasa takut dan bagaimana itu bisa mempengaruhi anda. Berikut ini cara memakai quiz:

  • Berdasarkan skala 1 (“Sama sekali bukan diri ku”) hingga 5 (“Itulah aku!”), rating diri anda pada setiap pernyataan memakai panduan berikut ini:

Tidak pernah = 1 poin
Jarang = 2 poin
Terkadang = 3 poin
Sering = 4 poin
Selalu = 5 poin

  • Setelah menuntaskan kelima quiz, hitung skore total untuk setiap quiz.
  • Rangking cara anda mengekspresikan rasa takut sebagai berikut: total skore tertinggi mengindikasikan cara utama anda mengekspresikan rasa takut, skore terbesar berikutnya yaitu cara sekunder anda, dan seterusnya.
  • Urutan yang mengindikasikan skore anda memperlihatkan suatu pandangan umum mengenai cara anda mengekspresikan rasa takut.

Diskusi detil dibagian bawah akan membantu anda untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai cara anda mengekspresikan rasa takut.

Quiz #1

  1. Apakah anda merasa enggan untuk meninggalkan zona nyaman, menghindari situasi-situasi yang mungkin menimbulkan anda menjadi stress atau cemas?
  2. Apakah anda merasa kesulitan untuk memulai perbincangan atau berbicara untuk diri sendiri?
  3. Apakah butuh waktu yang usang bagi anda sebelum memberanikan diri untuk berbicara dengan orang lain pada acara-acara sosial?
  4. Apakah anda sadar mengenai sensasi-sensasi pada badan anda ketika anda berada di dalam situasi-situasi sosial, contohnya detak jantung meningkat atau perut anda terasa mual?
  5. Apakah anda lebih suka tetap membisu dari pada berbicara dengan orang lain?
  6. Apakah anda merasa takut melaksanakan suatu kecerobohan sosial?
  7. Apakah anda menjauh dari aktivitas-aktivitas sosial, lebih banyak mengahabiskan waktu dengan acara pasif, contohnya membaca, menonton TV, atau memakai komputer?
  8. Saat ngobrol dengan orang lain, apakah anda kehilangan fokus pembicaraan alasannya khawatir ihwal pandangan orang lain mengenai diri anda?
  9. Apakah anda tidak suka menjadi sentra perhatian?
  10. Apakah anda merasa tidak nyaman ketika seseorang memuji anda?
  11. Apakah anda cenderung untuk hidup di dalam kepala dari pada di dalam badan anda?
  12. Apakah anda sering percaya bahwa anda “tidak cukup” (mampu, pintar, menarik, dan seterusnya)?

Skore Total: __

Quiz #2

  1. Apakah anda sering merasa tegang atau gelisah mengenai hal-hal yang terjadi dalam hidup anda?

  2. Apakah orang lain terkadang menggambarkan anda sebagai “terlalu tegang”?

  3. Apakah anda merasa sulit untuk rileks, bahkan ketika tidak ada yang benar-benar perlu diatasi?

  4. Apakah anda merasa sulit untuk tertidur, tetap tertidur, atau tidur nyenyak di malam hari?

  5. Apakah anda gampang menjadi waspada terhadap suatu kemungkinan masalah?

  6. Apakah hal-hal tampaknya sering tampak lebih sulit dihadapi bagi anda dibanding bagi orang-orang yang anda kenal?

  7. Apakah anda menerima saran dari orang lain untuk “tenang” atau “jangan khawatir”?

  8. Apakah anda segera menjadi gugup ketika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan?

  9. Apakah anda sering memakai “Ya Tuhan!”?

  10. Apakah anda sering merasa resah ketika mendengar laporan berita, cuaca, atau bisnis?

  11. Apakah anda mencicipi ketegangan yang bekerjasama dengan problem di dalam tubuh, contohnya sakit perut, pusing-pusing, atau tegang dibahu?

  12. Apakah berdasarkan anda, anda terlalu banyak memikul tanggung jawab?

Skore Total: __

Quiz #3

  1. Apakah penting bagi anda bahwa orang-orang menyukai atau menyetujui anda?

  2. Apakah anda merasa sulit untuk menyampaikan “tidak” pada orang-orang ketika mereka meminta sesuatu pada anda?

  3. Apakah anda cenderung untuk memperlihatkan prioritas pada kebutuhan orang lain diatas kebutuhan anda sendiri?

  4. Apakah anda lebih suka memikirkan apa yang harus dilakukan dari pada apa yang ingin anda lakukan?

  5. Apakah anda merasa terganggu ketika seseorang merasa tidak suka pada anda?

  6. Apakah anda mencari persetujuan, petunjuk, atau konfirmasi dari orang lain sebelum melaksanakan apa yang ingin anda lakukan?

  7. Apakah anda merasa kesulitan untuk mengambil keputusan sendiri?

  8. Apakah anda gampang dipengaruhi oleh opini orang lain, mengubah sudut pandang anda ketika seseorang tidak baiklah dengan anda?

  9. Apakah anda gampang terintimidasi oleh suatu bunyi murka atau pandangan yang tidak setuju?

  10. Apakah anda enggan untuk berbicara, merasa takut bahwa seseorang mungkin tidak baiklah atau tidak suka dengan apa yang anda katakan?

  11. Apakah anda mencoba untuk menekan perasaan murka sehingga tidak membuat suasana memanas dan menjaga semoga semuanya tetap tenang?

  12. Apakah anda sering menuruti kemauan orang lain, kemudian merasa terluka atau murka sesudahnya alasannya opini anda tidak dihiraukan?

Skore Total: __

Quiz #4

  1. Apakah orang-orang akan terkejut ketika mengetahui ihwal apa yang mendasari rasa takut anda?

  2. Apakah anda menjadi gampang murka atau argumentative dengan orang lain sebagai suatu cara untuk lari dari perasaan tidak nyaman anda sendiri?

  3. Apakah orang lain menganggap anda sebagai orang yang kaku, yang selalu ingin semuanya sesuai impian anda?

  4. Apakah anda merasa kesulitan untuk bertanya pada orang lain, takut dianggap tidak kompeten?

  5. Apakah terkadang anda membual ihwal tidak takut terhadap apapun?

  6. Apakah anda merasa terlalu kaku atau menentang dibanding yang anda inginkan?

  7. Apakah anda ingin bisa lebih santai dan menikmati hidup?

  8. Apakah terkadang anda berpikir bahwa dibalik kemarahan anda, anda banyak menyimpan rasa takut?

  9. Apakah anda cenderung menjadi sarkastis atau sinis terhadap orang-orang dari pada berbicara secara eksklusif pada mereka mengenai apa yang mengganggu anda?

  10. Apakah anda melindungi diri dengan berakting seolah-olah  suatu serangan yang baik yaitu pertahanan yang terbaik?

  11. Apakah anda menganggap rasa takut orang lain itu sebagai indikasi kelemahan atau kekurangan dalam karakternya?

  12. Apakah anda memandang diri sebagai keras diluar, tapi lembut di dalam?

Skore Total: __

Perankingan dan Penaksiran Quiz

Sekarang anda sudah menuntaskan quiz, masukkan skore total untuk setiap quiz:

Skore untuk Quiz #1—Mengekspresikan takut dengan cara malu: ___
Skore untuk Quiz #2—Mengekspresikan takut dengan cara waspada: ___
Skore untuk Quiz #3—Mengekspresikan takut dengan cara patuh: ___
Skore untuk Quiz #4—Mengekspresikan takut dengan cara macho: ___
Skore untuk Quiz #5—Mengekspresikan takut dengan cara mengontrol: ___

Sekarang rangking cara anda mengekspresikan rasa takut. Jadikan total skore tertinggi sebagai cara utama anda mengekspresikan rasa takut, skore tertinggi berikutnya yaitu cara sekunder, dan seterusnya.

Cara mengekspresikan rasa takut yang tertinggi pertama: ________
Cara mengekspresikan rasa takut yang tertinggi kedua: ________
Cara mengekspresikan rasa takut yang tertinggi ketiga: ________
Cara mengekspresikan rasa takut yang tertinggi keempat: ________
Cara mengekspresikan rasa takut yang tertinggi kelima: ________

Saat anda menganalisa ulang hasil-hasil anda, harap di ingat hal-hal berikut ini:

  • Ingat bahwa latihan ini menyediakan tinjauan umum mengenai cara anda mengekspresikan rasa takut; ini bukanlah suatu test resmi, empiris. Tujuan disini yaitu untuk menerima suatu cara mengatasi bagaimana rasa takut berkontribusi terhadap gaya kepribadian anda.
  • Semua orang yang mengikuti quiz ini akan memperlihatkan skore pada setiap pernyataan. Kemungkinan skore terendah pada setiap quiz yaitu 12 poin; tertinggi yaitu 60. Tapi, skore 12 akan menjadi tidak mungkin, alasannya itu berarti bahwa anda counterphobic, atau cenderung untuk merespon pada situasi tanpa rasa takut sama sekali. Skore ideal akan berada dipertengahan (20-40), yang menyiratkan rasa takut yang relatif ringan dan masuk akal terhadap masalah-masalah yang di diskusikan.

5 Cara Mengekspresikan Rasa Takut

Sekarang anda sudah tahu cara apa yang paling secara umum dikuasai anda gunakan untuk mengekspresikan rasa takut dalam hidup anda, berarti sudah waktunya untuk mencar ilmu ihwal masing-masing jenis kepribadian spesifik.

Harap di ingat bahwa cara-cara mengekspresikan rasa takut ini bukanlah entity yang saling terpisah; kelimanya mempunyai kesamaan dalam beberapa fitur penting, dan yaitu mungkin bagi seseorang untuk menerima skore yang tinggi pada lebih dari satu cara.

Namun, orang yang takut umumnya cenderung untuk mempunyai suatu cara yang dominan, yang mempengaruhi mereka secara fisik, emosional dan intelektual. Perlu di ingat juga bahwa lima cara mengekspresikan rasa takut yang digambarkan disini bukanlah diagnosa medis, melainkan pola-pola kehidupan.

Agar bisa mempelajari cara mengatasi rasa takut, anda akan mendapatkan manfaat dari mengetahui bagaimana dan dalam situasi apa rasa takut anda terpicu. Berikut ini suatu citra umum mengenai lima cara mengekspresikan rasa takut:

1. Malu

Orang yang memakai cara ini cenderung untuk memperlihatkan sikap yang pasif, terhambat, terbatas. Orang yang pemalu sering memakai motto “Aku merasa tidak kondusif atau nyaman dengan orang lain.” Rasa takut ini diwujudkan dengan:

  • Suatu pikiran takut
  • Suara yang sunyi
  • Aksi-aksi yang terbatas
  • Tubuh yang diam
  • Hubungan-hubungan yang tercadang

Gerard—Seorang Pria yang Pendiam

Gerard, 44 tahun, yaitu seorang programer komputer yang telah bergulat dengan rasa aib di sepanjang hidupnya. Rasa takutnya yang secara umum dikuasai yaitu takut terhadap pertemuan-pertemuan akrab, baik secara perseorangan maupun dalam suatu jadwal yang besar.

Meski sangat sadar akan kesulitan yang selalu dihadapinya, tapi Gerard tetap tidak bisa menghilangkan aneka macam keraguan dan rasa aib yang mendasari ketakutannya.

“Aku tahu saya harus menyingkirkan rasa takut ku semoga bisa mengambil aksi,” ia mengakui, “tapi saya biasanya menundanya atau sama sekali menghindari situasi tersebut hingga saya tidak punya pilihan lain.”

Peperangannya dengan rasa takut telah berkontribusi terhadap banyak masalah, termasuk rusaknya pernikahannya dan aneka macam kepahitan yang menyertainya.

“Setelah saya bercerai, saya hanya duduk di rumah setiap malam dan tidak melaksanakan apapun. Aku sungguh bodoh. Aku kesepian dan sendirian tapi merasa terlalu takut untuk melaksanakan apapun. Malahan, saya hanya terobsesi mengenai apa yang salah, mengutuk diri ku, dan membayangkan hal-hal mengerikan yang dikatakan orang mengenai diri ku.”

2. Waspada

Orang yang memakai cara ini memperlihatkan sikap gugup, gelisah, terlalu responsif dan resah. Motto yang digunakannya yaitu “Aku merasa gugup dan khawatir ihwal begitu banyak hal.” Orang ini mengekspresikan rasa takutnya dengan:

  • Suatu pikiran yang waspada
  • Suara yang histeris
  • Aksi-aksi yang gelisah
  • Tubuh yang hiperaktif
  • Hubungan yang heboh

Sharon—Gugup dan Tegang

Sharon, seorang ibu yang berusia 38 tahun dan seorang pekerja sosial paruh waktu, yaitu seseorang yang sangat perhatian pada semua orang disekitarnya, tapi ia membuat sesuatu yang berpotensi membawa kebaikan ini menjadi suatu kesalahan.

“Aku rasa saya berasumsi bertanggung jawab terhadap lebih banyak hal dibanding yang seharusnya,” Sharon mengakui, “tapi saya takut untuk membuang aneka macam keprihatinan ku. Aku mengkhatirkan ihwal apa yang akan terjadi kalau saya melakukannya.”

Misalnya, ia selalu menjemput anak-anaknya ketika pulang sekolah meski ketika ini anak-anaknya sudah berusia 12 dan 10 tahun, usia dimana banyak orang bau tanah yang membiarkan anak-anaknya untuk berjalan pulang sendiri atau dengan teman-temannya.

Sharon beralasan: “Meski kami tinggal di lingkungan yang aman, tapi anda tidak akan pernah menjadi terlalu berhati-hati. Anda tidak akan tahu apa yang mungkin terjadi. Suami saya menyampaikan saya overprotective dan seharusnya sedikit longgar. Praktis bagi ia untuk mengatakannya tapi tidak gampang bagi saya untuk melakukannya.”

Selain itu, Sharon sering merasa sangat kelelahan alasannya selalu tergesa-gesa, mengerjakan aneka macam kewajiban yang real maupun imajinasi. Dia sendiri sadar bahwa ia perlu menenangkan diri, mengerjakan semuanya dengan tenang, dan membiarkan sebagian hal untuk berkembang tanpa perjuangan terus menerus dari ia untuk mengaturnya.

Tapi ia merasa kesulitan untuk melaksanakan itu, “Aku tidak tahu bagaimana cara untuk rileks,” ia mengakui. “Aku merasa kesulitan untuk tertidur—Aku selalu memikirkan ihwal masalah-masalah yang mungkin akan muncul dan semua tanggung jawab yang perlu saya tanggulangi.”

3. Patuh

Orang yang patuh itu suka bergantung, ragu-ragu, plin-plan, dan gampang di intimidasi. Orang yang patuh memakai motto “Aku hancur kalau seseorang tidak baiklah dengan ku.” Rasa takutnya diekspresikan dengan:

  • Pikiran yang tidak yakin
  • Suara yang ragu
  • Aksi-aksi yang menghasilkan
  • Tubuh yang berhati-hati
  • Hubungan yang penuh hormat

Doris—Seorang Anak yang Berbakti

Sepanjang hidupnya, Doris, seorang ibu rumah tangga yang berusia 44 tahun, telah karam dalam keraguan. Dalam keluarga dimana ia berasal, ia yaitu seorang stereotipikal “anak baik,” yang selalu siap untuk menyenangkan orang lain dan membuat orang tuanya bangga.

Sebagian aspek dari kepribadiannya yaitu suatu respon layak terhadap situasi keluarga, yaitu: Ayah doris jarang berada di rumah, dan ibunya sangat kerepotan mengurusi adik-adiknya.

“Aku tahu bahwa ibu membutuhkan saya untuk bisa mengurusi diri ku sendiri,” Doris menjelaskan. “Jadi, untuk itu, saya berpura-pura selalu baik-baik saja—bahkan ketika saya merasa sangat takut atau murka atau kebingungan.”

Meski reaksinya bisa dipahami, tapi itu tetap mempunyai dampak-dampak yang meragukan. Doris merasa bahwa kewajibannya dalam hidup yaitu “Aku bukan cuma khawatir ihwal apa yang dipikirkan orang lain, saya bahkan tidak tahu niscaya apa yang saya pikirkan. Aku takut untuk mempunyai opini ku sendiri. Aku ragu untuk mengambil keputusan. Aku bekerja keras untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain.”

4. Macho

Secara kontras, orang macho itu keras dan garang diluar tapi takut di dalam. Orang yang macho akan membual untuk mengintimidasi, memperlihatkan rasa takut hanya ketika seseorang menentangnya.

Sikap khasnya yaitu “Aku tidak akan memperlihatkan pada siapapun—termasuk diri ku—bahwa saya takut.” Rasa takut ini diwujudkan dengan:

  • Suatu fatwa yang tidak fleksibel
  • Suara yang kasar
  • Aksi-aksi yang berlawanan
  • Tubuh yang kaku
  • Hubungan yang kaku

Rob—Pria Macho

Rob, seorang polisi berusia 28 tahun yaitu pola klasik dari orang macho. Sering digambarkan sebagai “polisi yang tidak takut terhadap apapun,” ia gembira akan reputasinya dan menganggapnya sebagai asset personal dan profesional.

“Tidak ada yang berani macam-macam dengan ku,” Rob membual. “Jika mereka macam-macam, mereka akan menyesal.” Di ketika yang sama, secara tertutup ia mengakui bahwa imaje machonya tidak sama dengan apa yang ia rasakan di dalam.

“Dalam realitas, saya seringkali merasa takut. Aku berharap saya sama beraninya menyerupai apa yang orang kira mengenai diri ku, tapi sebagian besar saya menghindari rasa takut, alasannya itu lebih gampang untuk dilakukannya. Dari ketika saya masih kecil, saya mencar ilmu untuk menyembunyikan rasa takut ku dengan baik. Aku tumbuh di lingkungan yang keras di mana saya mencar ilmu untuk 'menghadapinya layaknya seorang pria.' Tidak problem apakah jantung anda berdetak kencang atau urat syaraf anda menegang hingga hampir putus. Hal terburuk yang bisa anda lakukan yaitu menjadi seorang pengecut.”

5. Pengontrol

Terakhir, orang yang suka mengontrol itu kompulsif, suka memaksa, dan kritis. “Sungguh membuat ku gila kalau hal-hal tidak dilakukan sebagaimana seharusnya” yaitu motto dari seorang pengontrol. Dengan mempertahankan suatu pehamaman yang ketat mengenai aturan akan meminimalkan hal-hal yang tak terduga, yang kesannya meminimalkan rasa takut. Attribut lainnya yaitu:

  • Pemikiran yang kritis
  • Suara yang menuntut
  • Aksi-aksi yang mendorong
  • Tubuh yang tegang
  • Hubungan yang mendominasi

Janice—Karena Aku Mengatakannya Begitu

Janice, yang berusia 34 tahun, single, dan seorang direktur humas, yaitu seseorang yang suka mengontrol. Dia gembira akan pencapaian profesionalnya dan selalu bekerja keras, seringkali hingga malam.

Tapi, Janice bukan cuma memaksakan dirinya, ia juga memaksa orang-orang disekitarnya. Para bawahannya (bahkan rekan-rekannya) memberinya gelar sebagai si pemberi kiprah yang galak.

Sikapnya yang pengontrol telah merusak bukan cuma kekerabatan kerjanya; kecenderungan untuk mendominasi orang lain ini juga telah merusak kekerabatan cintanya.

“Saat kekasaih ku mencampakkan saya tahun lalu,” Janice menjelaskan, “dia menyampaikan bahwa ia sudah tidak tahan lagi dengan kritikan dan sikap ku yang suka mengontrol. Aku sangat kaget. Aku kira ia tidak cukup baik untuk ku—tapi ternyata ia malah mencampakkan aku. Aku hampir tidak bisa percaya!”

Guncangan alasannya kehilangan ini mengilhami Janice untuk mengikuti terapi kelompok. Yang membuatnya heran, ia menerima masukan yang mengkonfirmasi persepsi kekasihnya mengenai sifatnya yang suka mengontrol.

Janice mencoba untuk membela diri: “Orang-orang tidak mengerti bahwa saya punya banyak ketakutan. Kecuali hal-hal dilakukan menyerupai yang saya anggap terbaik, saya merasa tidak berdaya dan kewalahan. Dengan menjadi pengontrol membuat ku merasa lebih aman. Tapi kini saya hidup sendirian, saya menderita. Kedengarannya menyakitkan untuk dikatakan, tapi tanpa seseorang untuk dikontrol, hidup ku tampaknya tidak berarti.”

Takut—Sebuah Pola yang Bisa Anda Ubah

Nah, kini anda sudah mengidentifikasi cara anda mengekspresikan rasa takut, berarti anda sudah mengambil suatu langkah yang besar, yaitu mengakui sikap dan pola tingkah laris dalam cahaya yang terang. Selanjutnya apa?

Langkah selanjutnya yaitu membuatkan skill-skill yang akan membebaskan anda dari ikatan-ikatan rasa takut. Berikan diri anda pujian, alasannya anda sedang berada dijalan untuk mempelajari cara menjalani hidup yang lebih bebas, kehidupan yang lebih penuh dengan petualangan.

Tapi, pertama-tama, mari kita pelajari dulu bagaimana suatu gaya hidup yang penuh rasa takut dimulai.


Baca Juga: Build Hero Assassin: Helcurt - Mobile Legends

Bagaimana Suatu Gaya Hidup Ketakutan Berkembang

Sid, satu-satunya anak yang selamat dari Holocaust, tumbuh besar dalam sebuah rumah tangga yang dihantui oleh rasa takut akan kehilangan dan kesedihan yang tiba tak terduga. Dia berjuang dengan rasa takut yang intens semenjak masa kanak-kanak.

Ayah Allan meninggal tidak usang sesudah sang anak berulang tahun yang ke 13; semenjak itu, Allan merasa tidak yakin mengenai dirinya, prihatin mengenai keamanannya di dalam dunia, dan cemas mengenai setiap insiden negatif tak terdua berikutnya yang mungkin akan terjadi.

Joanna ialah seorang anak yang gugup dan pemalu. Sekarang ketika dewasa, ia masih terus merasa kewalahan dan was-was oleh banyak sekali aspek dari kehidupannya sehari-hari.

Seperti yang di isyaratkan oleh kisah-kisah ini, sebuah gaya hidup yang penuh ketakutan itu bisa muncul dari banyak sekali sumber. Terkadang, sumbernya ialah suatu situasi yang jelas, nyata, contohnya ketika seorang anak terluka, mengalami trauma, dianiaya, atau ditelantarkan.

Di ketika lain, rasa takut tiba melalui rute lain, contohnya penyakit fisik atau emosional, kesulitan finansial yang dialami orang tua, atau kehilangan seseorang yang mempunyai relasi dekat alasannya ialah perceraian atau kematian. Temperamen bawaan lahir, juga, bisa memperkuat kondisi-kondisi lingkungan.

Tujuan utama dari goresan pena ini ialah memperlihatkan banyak sekali cara untuk mengubah suatu gaya hidup yang penuh rasa takut. Tapi untuk memahami jalan keluar dari rasa takut, penting juga untuk memahami jalan masuknya.

Asal Mula Suatu Gaya Hidup Penuh Ketakutan

Tidak ada satu penyebab khusus untuk suatu gaya hidup yang penuh dengan ketakutan. Ada beberapa jenis faktor—bahkan faktor-faktor yang berlawanan secara diametris—yang bisa sangat berkontribusi pada suatu kepribadian yang penakut. Berikut ini beberapa faktor yang paling penting:

1. Kejadian-kejadian dari Masa Kecil: Kehilangan dan Trauma

Dari banyak faktor yang bisa berkontribusi terhadap suatu gaya hidup ketakutan, yang paling berpengaruh ialah pengalaman hidup yang tragis atau traumatis.

Trauma fisik atau emosional bisa sangat merusak pemahaman seseorang mengenai dunia sebagai suatu kawasan yang aman. Salah satu dampak dari mengalami insiden tersebut ialah rasa takut bahwa kehilangan akan terulang lagi.

Secara otomatis anda mungkin akan bermain aman, tidak berharap untuk termakan takdir. Perasaan kehilangan ini terutama bisa parah bila syok terjadi pada masa-masa awal dalam kehidupan. Traumanya tidak harus banyak; bahkan satu insiden traumatis saja sudah bisa menyampaikan dampak yang negatif.

Terlalu Cepat Teralu Banyak—Kisah Catherine

Catherine, yang ketika ini berusia 38 tahun, mempunyai masa kecil yang indah hingga ketika ia menginjak usia 14 tahun. Sama menyerupai semua orang, Catherine merasa terguncang ketika mengetahui ibunya di diagnosa menderita kanker tahap 4 dan meninggal 3 bulan kemudian.

Trauma tersebut menghantam seluruh anggota keluarga dengan kekutatan yang dahsyat. Ayah Catherine tidak bisa mengataasi kiprah ganda sebagai orang tua. Secara emosional kondisinya memburuk, melarikan diri ke alkohol untuk menghilangkan kesedihannya.

Karena ayahnya tidak bisa untuk berfungsi sebagai pencari nafkah dan orang tua, Catherine menemukan dirinya berada di posisi sebagai kepala keluarga. Dia bukan cuma harus memasak dan mengurus rumah, tapi juga mengurus adiknya, Alicia, yang ketika itu gres berusia 12 tahun.

Catherine mengatasi situasi tersebut dengan cara membuatkan hypercompetent dan menjadi kaku wacana banyak sekali tanggung jawabnya di rumah.

Sekarang, sesudah lebih dari 20 tahun kemudian, Catherine hidup dalam suatu kondisi sangat cemas yang mewujudkan dirinya terutama sebagai kebutuhan untuk mengontrol. Bahkan sedikit ketidak pastian saja bisa mengakibatkan ia merasa cemas bahwa semuanya akan menjadi “buruk.”

Sayangnya, kekakuan dan pesimisme Catherine sering berkontribusi secara tepat pada banyak sekali insiden jelek yang ia takuti.

Dia mengasingkan teman-teman dan kerabatnya, membuatkan suatu reputasi sebagai seorang yang suka mengontrol diantara rekan-rekan bisnisnya, dan membahayakan rumah tangganya dengan selalu bersikeras bahwa semuanya harus dilakukan sesuai dengan keinginannya.

Seperti yang di indikasikan dongeng Catherine, kejadian-kejadian traumatis bisa sangat mengubah masa kanak-kanak yang indah menjadi masa-masa remaja yang penuh beban dan kekhawatiran.

Anak-anak yang terlalu awal memikul suatu kiprah orang remaja seringkali melaksanakan tugas-tugasnya dengan cukup baik dari perspektif luar; tapi di dalam, anak tersebut seringkali dipenuhi dengan kekacauan batin.

Anak tersebut mungkin menjadi cemas dan bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya melaksanakan kiprah yang cukup bagus?” Anak tersebut mungkin merasa marah, bertanya-tanya, “Kenapa saya harus melaksanakan ini?” atau “Kenapa bukan Ayah (atau Ibu)?”

Anak tersebut mungkin berasa sendiri dan kesepian, merasa bahwa ia harus mengurus keluarganya, meski tidak ada orang yang mengurus dirinya. Akhirnya, si anak mungkin merasa marah: “Kenapa Ibu harus meninggal?”

Trauma bisa terjadi dalam banyak sekali tingkat keparahan. Sebagian insiden jelas-jelas merusak, menyerupai apa yang dialami Catherine. Kejadian lain, contohnya selesai hidup yang tenang dari nenek atau kakek, mungkin menyerang seseorang sebagai insiden traumatis tapi anggota dari keluarga yang sama relatif tidak terpengaruh.

Kejadian yang tidak jelek berdasarkan standard orang remaja mungkin merusak keseimbangan seorang anak, membuatnya shock, atau membuatnya galau mengenai cara mengatasinya. Salah satu insiden menyerupai itu mungkin ialah sahabat erat yang tiba-tiba pindah rumah.

Apakah semakin banyak syok di dalam hidup anda berarti bahwa gaya hidup anda akan jadi penuh dengan ketakutan?

Belum tentu. Sebagian orang yang pernah banyak mengalami syok bisa untuk tetap tegar dan terbuka terhadap banyak sekali tantangan dan petualangan dalam hidup meski menghadapi kehilangan yang tragis.

Tapi, truma tentu tetap bisa menjadi suatu faktor utama dari gaya hidup yang penuh rasa takut.

2. Trauma Tak Kentara: Tidak ada Kata-kata untuk Apa yang Terjadi

Orang lain membuatkan rasa takut sebagai hasil dari syok rahasia, tersembunyi, yang tidak bisa diungkapkan oleh belum dewasa pada siapapun—trauma yang membuat mereka harus menghadapi situasi mereka sendirian.

Salah satu situasi yang paling memicu rasa takut pada belum dewasa ialah tidak memahami apa yang terjadi dan tidak ada kawasan untuk meminta penjelasan, petunjuk, atau perlindungan.

Anak-anak hanya memliki sedikit pemahaman mengenai makna dari banyak sekali situasi, sehingga secara natural mereka akan mencari orang lain untuk meminta petunjuk yang bisa membantu mereka dalam memahami dunianya.

Tapi gosip yang mereka sanggup dari orang lain itu mungkin membingungkan, tidak benar, atau bahkan benar-benar menyesatkan,

Apa yang Terjadi?—Kisah Joey

Bagi dunia luar, Joey mempunyai seorang ibu yang luar biasa, penuh kasih sayang dan perhatian. Tapi Joey merasa bahwa hubungannya dengan ibunya itu membingungkan dan mengerikan. Selama bertahun-tahun, ibunya akan memperilakukannya secara berbeda bila berada di kawasan publik dengan bila berada ditempat tertutup.

Ibunya akan bersikap manis, hangat, dan lembut ketika ada orang lain di sekitar, tapi akan bertindak tidak pantas, menarik hati dan mengontrol ketika sendirian dengannya. Joey sering mendengar dari keluarga teman-temannya bahwa ibunya itu luar biasa, tapi pengalaman yang dialami bersama ibunya membuatnya ketakutan.

Dari hari ke hari, Joey tidak pernah tahu akan berubah menyerupai apa mood ibunya hari itu. Ibunya membuat Joey sangat ketakutan, tapi Joey tidak tahu kenapa. Di ketika yang sama, Joey membutuhkan ibunya dan menginginkan kasih sayangnya.

Tapi sikap ibunya tidak bisa diprediksi. Hanya bertahun-tahun kemudian, ketika Joey sudah dewasa, ia menyadari bahwa ibunya menderita gangguan bipolar dan juga seorang alkoholik. Realisasi tersebut menjelaskan banyak hal, tapi Joey tidak punya cara untuk memahaminya ketika ia masih kecil.

Biasanya, belum dewasa tidak tahu cara untuk menjelaskan apa yang salah dalam suatu situasi, dan mereka seringkali merasa berada pada belas kasihan dari orang-orang yang berkuasa dalam hidup mereka.

Akibatnya, mereka melaksanakan apa yang perlu mereka lakukan semoga bisa bertahan di dalam keluarga di mana mereka berasal, menjadi pendiam atau sedih, suka berbicara dengan keras atau mengintimidasi, tunduk atau memberontak.

Sebagai orang dewasa, banyak orang yang terus menjalani kehidupannya dengan sikap yang sama, meski ketika mereka sudah tidak lagi hidup dalam kondisi yang sama. Gaya hidup mereka yang penuh ketakutan telah menjadi begitu familiar bagi mereka sehingga mereka meneruskannya, bahkan ketika itu tidak lagi menyampaikan manfaat.

3. Temperamen dan Genetik

Faktor utama lain yang berkontribusi terhadap gaya hidup yang penuh ketakutan ialah temperamen dan genetik. Temperamen ialah salah satu yang paling berpengaruh dari banyak faktor yang memilih kepribadian.

Bahkan ketika gres lahir, bayi tidak lah benar-benar “kosong” menyerupai yang dianggap oleh sebagian orang. Sebagian bayi itu punya sifat tenang, sebagian lain sangat gelisah; sebagian gampang kembali tenang ketika merasa tidak nyaman, sementara sebagian lain sulit untuk merasa tenang; sebagian lain selalu ingin digendong, sementara sebagian lain menjauhi kontak manusia.

4. Orang Tua yang Ekstrem—Terlalu-dan Kurang Melindungi

Belum ada studi yang memperlihatkan bahwa salah satu dari gaya parental tertentu itu lebih baik. Tapi, gaya dan taktik parental yang ekstrem memang mengakibatkan masalah.

Sebagian orang renta itu terlalu melindungi, dan tidak mau menyampaikan kebebasan pada anak-anaknya. Sebagian orang renta yang lain begitu jauh sehingga membiarkan anak-anaknya untuk menjadi rentan terhadap ancaman fisik atau emosional.

Kedua gaya parental ini bisa membuat hasil-hasil yang serupa.

Terlalu Melindungi

Secara intuisi belum dewasa tahu bahwa mereka tidak akan pernah mendapatkan apa yang mereka inginkan dari kehidupan bila tidak mau mengambil resiko. Faktanya adalah, manfaat dari resiko itu bisa sangat banyak.

Saat orang renta berusaha keras untuk membuat suatu kehidupan yang bebas resiko bagi anak-anaknya, maka niat baik tersebut pada kesannya akan berdampak negatif.

Pengalaman sesekali dari gaya parental yang terlalu melindungi tidak akan membuat suatu gaya hidup yang penuh ketakutan.

Tapi, pengalaman yang berulang-ulang bisa menyampaikan suatu pesan tidak tepat bahwa banyak atau sebagian besar situasi itu berbahaya, dan bahwa sang anak tidak bisa untuk menghadapinya sendirian dan harus selalu bergantung pada campur tangan dan proteksi dari orang renta semoga kondusif di dalam dunia.

Berikut ini beberapa imbas samping negatif dari sikap kumulatif para orang renta yang terlalu melindungi:

  • Menciptakan suatu pemahaman yang keliru mengenai keamanan. Anak-anak yang berada dalam situasi ini cenderung berasumsi bahwa orang tuanya akan selalu bersamanya, dan mereka membuatkan suatu rasa berlebihan mengenai kekuasaan orang tuanya.

Akibatnya ialah sang anak seringkali menjadi shock dan cemas ketika mengalami suatu pengalaman yang menyulitkan, menyusahkan dan menyakitkan.

  • Menghilangkan kesempatan belum dewasa untuk mengalami pengalaman-pengalaman berhadapan dengan kesalahan dan kekeliran evaluasi mereka, yang bahwasanya perlu. Jika orang renta masuk untuk melindungi anak tersebut dari semua kesulitan dan kesalahan, maka anak tersebut tidak akan berguru mengenai dampak dari aksi-aksinya.

Anak tersebut akan berasumsi bahwa ayah dan ibu akan selalu melindungi, apapun yang ia lakukan. Suatu lingkungan yang bebas dari kegagalan atau putus asa itu lebih banyak mengakibatkan duduk masalah dari pada menyelesaikannya.

  • Mengurangi kesempatan anak untuk menaksir resiko, mengatasi situasi yang menantang, berguru skill-skill pemecahan masalah, dan membuatkan keyakinan diri.

Anak-anak yang masih sangat kecil akan menerima manfaat dari pesan-pesan untuk menjauhi bahaya. Anak yang berusia 5 atau 6 tahun kebawah belum bisa menaksir resiko, dan belum bisa berpikir abstrak.

Tapi semenjak usia 7 atau 8 tahun, belum dewasa perlu pengalaman menaksir resiko. Mereka perlu melihat banyak sekali tingkat ancaman dan berguru untuk membuat keputusan-keputusan yang lebih halus mengenai respon-respon mereka.

Banyak orang renta yang menghalangi proses ini dengan cara menyampaikan pernyataan-pernyataan semua atau tidak sama sekali (ini aman, itu bahaya) mengenai dunia.

  • Menghalangi belum dewasa untuk melihat contoh-contoh realistis. Jika orang renta mau jujur menaksir kehidupannya sendiri, maka mereka umumnya akan mengakui bahwa mereka telah banyak berguru alasannya ialah mereka mengambil resiko, meski bila hasilnya tidak sesuai harapan.

Mereka mendapatkan pengetahuan, bahkan kebijaksanaan, wacana menghitung biaya-biaya dan manfaat. Mereka telah berguru untuk mencari gosip lebih banyak sebelum mengambil suatu resiko yang besar.

Mereka telah membuatkan suatu kemampuan untuk menyeimbangkan antara kebutuhan akan kegairahan dengan kebutuhan akan keamanan. Namun orang-orang yang sama ini seringkali membatasi perjuangan anak-anaknya sendiri untuk menjalani proses dan mendapatkan budi yang sama.

Saat sikap terlalu melindungi mengarah pada rasa takut, itu bukan alasannya ialah orang renta yang sembrono atau tidak perhatian. Sebaliknya, proses ini terjadi alasannya ialah orang renta yang terlalu perhatian atau terlalu cemas.

Sebagian orang renta mengklaim bahwa ketika anak-anaknya beranjak dewasa, tidak ada yang namanya terlalu berhati-hati. Ironisnya, dengan menjadi terlalu berhati-hati bisa jadi membawa resikonya sendiri, membantu memperkuat ketidak mampuan sang anak untuk mengatasi masalah.

Kurang Melindungi

Kebalikan dari ini ialah gaya parental yang kurang melindungi. Terlalu sedikit itu sama menyerupai terlalu banyak perlindungan, bisa mengakibatkan suatu suasana ketakutan.

Coba perhatikan dongeng Catherine. Setelah ibunya meninggal dan ayahnya menjadi alkoholik, Catherine dan adiknya harus menafkahi dirinya sendiri. Catherine, terutama, menanggung suatu beban tanggung jawab yang terlalu berat untuk seorang anak yang gres berusia 14 tahun.

Banyak belum dewasa yang memegang peranan pseudoparental menyerupai itu mengalami efek-efek samping yang serupa ketika mereka berjuang menghadapi tugas-tugas yang jauh diatas kemampuan mereka.

Bahkan ketika mereka bisa mengatasinya dengan sangat baik, namun dengan mengasumsikan peran-peran orang remaja ketika masih kanak-kanak, akan selalu membawa imbas samping negatif terhadap psikologinya.

  • Gaya parental yang kurang melindungi membuat suatu pemahaman dasar wacana kecurigaan mengenai dunia. Anak-anak yang tidak dirawat dengan baik (entah secara fisik atau emosional) jarang merasa kondusif atau tenang berada dalam lingkungan mereka.
  • Gaya parental yang kurang melindungi membuat situasi-situasi yang berbahaya, sedangkan belum dewasa yang belum tahu cara mengatasi semua duduk masalah dan resiko dalam hidup. Situasi ini menempatkan belum dewasa pada resiko, dirumah maupun ditempat lain.

Saat mereka harus menghadapinya sendiri dan tidak ada kawasan untuk berlindung, belum dewasa seringkali terlibat dalam duduk masalah dengan aktivitas-aktivitas yang bersiko tinggi.

  • Gaya parental yang kurang melindungi seringkali memperingatkan belum dewasa untuk khawatir bahwa mereka tidak melaksanakan suatu pekerjaan yang cukup bagus. Mereka membuatkan apa yang disebut “impostor syndrome,” merasa bahwa meski dalam realitas mereka bisa mengatasi dengan baik, tapi seseorang akan menemukan betapa sedikit yang bahwasanya mereka tahu atau betapa tidak tenang yang bahwasanya mereka rasakan.
  • Gaya parental yang kurang melindungi membuat belum dewasa tidak mempunyai contoh-contoh yang cukup. Situasi ini bukan hanya membuat belum dewasa menjadi subjek dari harapan-harapan dan kiprah yang tidak beralasan, tapi juga membuat mereka harus menanggung tanggung jawab dan duduk masalah tanpa bimbingan.

Karena begitu banyak resiko yang harus di hadapi oleh belum dewasa yang dibesarkan dengan gaya parental yang kurang melindungi, maka mungkin akan mengakibatkan rasa takut yang berkepanjangan terhadap apa yang diaggap oleh orang lain sebagai kejadian-kejadian biasa dalam kehidupan.

Karena kurang menerima proteksi dari orang tua, mereka mungkin tumbuh menjadi orang remaja yang terus menerus menunggu dalam rasa takut terhadap krisis, rintangan, atau peristiwa berikutnya.

Alternatifnya, mereka memiliih mengekspresikan rasa takutnya dengan menjadi macho, tampak berani diluar untuk menutupi rasa takut di dalam (misalnya orang-orang yang mencari aktivitas-aktivitas berbahaya atau terlibat dalam relasi seksual beresiko tinggi).

Dimana yang Pertengahan?

Lalu, bagaimana orang renta bisa merespon terhadap anak-anaknya dalam cara yang tidak berlebihan juga tidak kekurangan?

Penelitian psikolog sosial Stanley Schacter mengindikasikan bahwa ketika orang-orang berada dalam suatu situasi membingungkan atau berpotensi mengancam, mereka mengamati atau berkomunikasi satu sama lain untuk memilih emosi-emosi apa yang seharusnya mereka rasakan.

Selain itu, mereka mencari tahu mengenai kondisi-kondisi emosional orang lain untuk membantu mereka menafsirkan kondisi emosional mereka sendiri.

Hasil penelitian Schacter itu relevan dengan diskusi kita alasannya ialah membantu kita memahami bagaimana belum dewasa mempelajari cara-cara merespon terhadap situasi menakutkan. Jika reaksi orang renta anda ekstrem, maka respon mereka niscaya memupuk ke khawatiran di dalam diri anda.

Berikut ini sebuah skenario yang memperlihatkan bagaimana tidak respon parental yang berbeda bisa mensugesti pandangan emosional dari anak-anak. Bayangkan suatu kecelakaan rutin selama masa kanak-kanak.

Seorang balita, dengan kaki yang masih belum mantap, merasa ingin tau untuk menjelajahi dunianya. Karena merasa tertarik oleh suatu mainan baru, ia berlari, kehilangan keseimbangan, dan membenturkan kepalanya ke lantai. Kaget, ia menatap ibunya untuk memilih apa yang telah terjadi.

Dalam skenario 1, sang ibu sangat ketakutan. Dia panik, berteriak secara histeris, “Ya Ampun!” Sang anak meraung menangis, merasa yakin bahwa sesuatu yang sangat jelek telah terjadi.

Jika ini sering terjadi selama bertahun-tahun, maka skenario ini menempatkan si anak untuk membuatkan gaya hidup yang penuh ketakutan dan menjadi penakut, selalu was-was, bergantung, kaku atau kompulsif. Saat orang renta terlalu reaktif, itu cenderung memperkuat rasa takut alami seorang anak.

Skenario 2 memperlihatkan reaksi yang berlawanan. Saat belum dewasa jatuh, ibunya tidak ada atau ada secara fisik tapi tidak responsif secara emosional.

Sangat anak, kaget, mencicipi ketidak pedulian atau perhatian dari orang tuanya, yang memperkuat kecemasannya. Atau, beralih ke ibunya untuk mencari kenyamanan yang malah diberi omelan: “Jangan cengeng ah.” Kedua reaksi tersebut membuat si anak tidak mendapatkan apa yang akan menghilangkan rasa takutnya.

Secara kontras, skenario 3 memperlihatkan seorang ibu yang tenang tapi tidak cemas. Dia menyidik si anak, menenangkannya, menciumnya, dan menyampaikan padanya bahwa semuanya baik-baik saja. Rasa takut si anak menghilang. Dia meneruskan penjelajahannya.

Melalui respon menyerupai ini, keluarga membuat suatu kawasan yang mendorong belum dewasa semoga tumbuh, mengambil resiko, dan berguru kapan waktunya untuk merasa takut dan kapan waktunya untuk tidak takut. Keluarga yang kondusif mendapatkan kesalahan dan menghormati penentuan nasib sendiri.

Gaya parenting yang terbaik mendorong keyakinan diri sang anak dan menghormati perasaannya sambil mengajarkannya wacana cara merespon terhadap bahaya-bahaya dari kehidupan. Kisah yang menakut-nakuti juga menundukkan emosional ialah pondasi yang jelek untuk membangun keyakinan diri.

5. Harapan-harapan Parental

Pengaruh signifikan lain yang memupuk suatu gaya hidup penuh ketakutan ialah harapan-harapan tidak realistis, entah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Katakanlah bahwa orang renta anda berharap anda untuk menjadi sempurna, tidak mentolerir kesalahan penilaian, tidak melaksanakan kesalahan, kebodohan, kecerobohan, atau malas.

Anda, sebagai seorang anak normal, sudah niscaya berantakan, salah mengartikan situasi, salah memahami permintaan, atau ketika itu sekedar sedang merasa malas atau tidak termotivasi.

Tapi keinginan yang tinggi dari orang renta anda mungkin membuat anda merasa bersalah mengenai sikap anda, meski sikap anda untuk masih masuk akal berdasarkan usia anda. Situasi ini bisa mengakibatkan suatu kondisi pikiran yang cemas, alasannya ialah anda mungkin sangat khawatir wacana “mengecewakan orang renta anda” bahkan ketika anda lumayan mereka.

6. Atmosfir Keluarga

Anak-anak itu umumnya lebih sensitif dan intuitif dibanding orang renta pada umumnya. Antena emosional mereka itu sangat sensitif terhadap mood di dalam suatu keluarga. Mereka bisa menangkap sinyal-sinyal rasa takut dengan mudah, bahkan ketika mereka tidak tahu sumbernya atau tidak memahami apa yang terjadi.

Anak-anak itu pengamat insiden yang sangat baik tapi penerjemah yang buruk. Mereka akan mengetahui terjadinya perubahan-perubahan, contohnya “Ayah semakin jarang berada di rumah,” atau “Ibu sering marah.”

Untuk alasan ini, orang renta perlu membantu anak-anaknya untuk menerjemahkan kejadian-kejadian dalam suatu cara yang sesuai usia.

7. Respon Parental Terhadap Kejadian Dunia

Selain syok keluarga, insiden dan krisis di dunia luar bisa mensugesti respon emosional seorang anak. Dengan jangkauan media gambar ketika ini, kejadian-kejadian nasional dan internasional, juga bisa menanamkan rasa takut pada anak-anak, bahkan ketika malapetaka tersebut terjadi di kawasan yang sangat jauh.

Reaksi belum dewasa terhadap kejadian-kejadian tersebut akan berbeda, tergantung dari sensitivitas dari anak itu sendiri dan respon orang tuanya.

Jika orang renta membiarkan suatu proses konstan dari gambar-gambar tragis dan mengerikan untuk masuk ke dalam rumah keluarga, maka belum dewasa akan kesulitan untuk berhadapan dengan begitu banyak rangsangan yang menakutkan.

Hubungan Saat ini: Membantu atau Membahayakan?

Pengalaman-pengalaman awal memang mempunyai suatu imbas yang sangat besar terhadap pengembangan emosional dan respon kita pada dunia luar.

Namun, pengalaman masa kecil bukanlah satu-satunya. Karena anda ialah suatu pekerjaan dalam proses, kejadian-kejadian nanti dalam hidup juga bisa mempunyai dampak yang besar.

Hubungan cinta terutama bisa sangat vital dalam menyangkut hal ini, entah menyampaikan hasil positif atau negatif. Sebagian relasi memperlihatkan keinginan dan janji, sehingga meningkatkan ketegangan dan kecemasan sambil menyediakan proteksi dan bantuan.

Pikirkan mengenai suatu relasi dewasa—mungkin dengan seorang teman, kerabat, pasangan, andal terapi, atau seorang kekasih—yang membuat anda merasa bahagia mengenai diri sendiri. Jika iya, apakah itu:

  • Menambah keyakinan diri?
  • Membuat anda merasa lebih bergairah?
  • Meningkatkan kemampuan anda untuk menghadapi tantangan tertentu?
  • Mendorong anda untuk mengemukakan pendapat?
  • Memperingatkan anda untuk mengambil aksi?
  • Membantu anda membuatkan wawasan dan keberanian?
  • Menginspirasi suatu pemahaman yang lebih besar mengenai keamanan?
  • Membantu anda menghargai siapa diri anda dan apa yang anda miliki untuk ditawarkan?
  • Mengurangi ketakuan anda baik dalam intensitas maupun frekuensinya?

Sebaliknya, sebagian relasi mengkhianati keinginan dan janji, karenanya meningkatkan rasa tanggung berkepanjangan sebagai akhir dari kritikan, intimidasi, kebingungan, dan ketidak jelasan. Apakah anda mengalami relasi menyerupai ini? Jika iya, apakah anda merasa bahwa itu:

  • Menghilangkan keyakinan diri?
  • Menghilangkan semangat anda untuk mengemukakan pendapat?
  • Memperingatkan anda semoga tidak mengambil aksi?
  • Menjaga anda semoga tetap berada dalam keadaan bermusuhan, kekurangan, atau penyiksaan?
  • Memperkuat rasa takut, ketidak pastian, dan keraguan?
  • Meningkatkan suatu rasa akan ketergantungan dan kebutuhan?
  • Mempertahankan luka-luka usang semoga tidak sembuh?
  • Membiarkan anda merasa pesimis wacana apa yang anda miliki untuk ditawarkan?
  • Meningkatkan ketakutan anda wacana masa kini dan masa depan?

Nah, kini anda sudah memahami bagaimana suatu gaya hidup penuh ketakutan berkembang, kini waktunya untuk mempelajari skill-skill gres yang akan membantu anda menghancurkan pola-pola lama.


Baca Juga: 5 Alasan Mengapa Kamu Harus Beli Xiaomi

Memahami Proses Perubahan

Nah, kini anda sudah lebih mengerti kenapa anda menjadi begitu penakut. Anda sudah hidup dengan cara menyerupai ini untuk jangka waktu yang lama, tapi kini anda sudah siap—atau setidaknya sedang bersiap—untuk berubah.

Bagaimana anda bisa membuat perubahan-perubahan tersebut terjadi? Bagaimana anda bisa mencar ilmu skill-skill yang dibutuhkan untuk membuat hidup jadi lebih baik bagi diri sendiri?

Mungkin anda sedang membayangkan perihal betapa menyenangkannya jikalau anda cuma tinggal menjentikkan jari, kemudian perubahan terjadi begitu saja. Sebagian orang menyampaikan seperti menyerupai itulah perubahan akan terjadi.

Saya yakin anda pernah berhadapan dengan teman, anggota keluarga, rekan kerja, bahkan orang yang sama sekali tidak dikenal, yang percaya bahwa anda bisa menghilangkan rasa takut hanya dengan kekuatan kemauan.

Mungkin sebagian dari orang-orang tersebut pernah menyampaikan pada anda, “Tidak ada yang perlu ditakutkan,” “Jangan takut,” “Jangan begitu pemalu,” “Jangan terlalu khawatir,” “Kuatkan tekad mu,” atau pernyataan-pernyataan yang serupa. Tapi anda dan saya tahu bahwa tidak semudah itu.

Apa yang Perlu Anda Ketahui Tentang Perubahan

One doesn’t discover new lands without consenting to lose sight of the shore for a very long time.

—André Gide

Hanya dengan disuruh atau ingin berubah, bukan menyerupai itu cara terjadinya perubahan. Perubahan itu yakni sebuah proses, bukan suatu kejadian instant.

Waktu akan mengubah anda. Kondisi kehidupan akan mengubah anda. Pilihan yang anda buat akan mengubah anda. Tapi anda tentu tidak ingin hanya menunggu hingga event-event tersebut terjadi dengan sendirinya. Anda ingin menjadi pro-aktif dan membuat perubahan terjadi.

Selain itu, anda niscaya ingin menghindari perubahan terjadi ke arah yang berlawanan—menjadi semakin takut atau membuat suatu kejadian yang lebih membatasi kehidupan bagi anda. Saat anda secara sadar mulai berubah, akan lebih membantu bagi anda untuk menghargai konsep-konsep berikut ini:

  • Perubahan itu niscaya terjadi.

Mencoba menghentikan perubahan itu sama menyerupai menghentikan arus sungai. Itu tidak mungkin. Betapa pun banyaknya energi yang anda habiskan untuk perjuangan ini, kekuatan sungai akan jauh lebih besar dibanding anda.

Jadi, kenapa tidak mempunyai suatu pemikiran yang terbuka dan mendapatkan perubahan, dari pada menolaknya secara otomatis?

  • Perubahan itu tidak selalu sulit atau menyusahkan.

Sebagian perubahan itu bahwasanya gampang dan menyenangkan, jadi jangan panik ketika anda mendengar bahwa akan terjadi suatu perubahan.

Saat anda menjadi lebih nyaman dengan perubahan, anda akan percaya bahwa apapun perubahan yang perlu anda buat, atau betapapun awalnya anda menolak terhadap suatu situasi baru, tapi pada balasannya anda akan tetap harus menghadapinya.

  • Perubahan mungkin bahwasanya membuat hidup anda jauh lebih nyaman dan menyenangkan sesudah anda mengadopsinya.

Beberapa contohnya yakni mempelajari cara memakai komputer, menghilangkan keengganan anda untuk berolahraga, dan merelakan kebutuhan anda untuk mengontrol suatu hubungan.

Memang, jangan kaget jikalau sebagian perubahan yang awalnya anda perangi malah akan menjadi aspek yang paling anda senangi dari kehidupan anda.

  • Penolakan anda untuk berubah itu seringkali yakni suatu kontradiksi antara faktor-faktor yang berlawanan dengan kepribadian anda sendiri.

Bukanlah hal yang tidak biasa jikalau suatu bab dari anda (bagian pengambil resiko) ingin mencicipi hidup dalam semua variasinya yang tak terbatas, sementara sebagian lain dari diri anda (bagian yang berhati-hati) sangat ingin keluar dari bahaya.

Agar perubahan bisa terjadi, anda harus menemukan suatu cara semoga kedua bab dari diri anda ini bisa seiring sejalan.

  • Takut terhadap perubahan itu biasanya takut terhadap ketidak tahuan.

Saat anda semakin banyak tahu perihal apa yang akan anda hadapi atau orang yang bisa membantu anda menghadapinya, maka sebagian besar situasi akan menjadi semakin kurang menakutkan.

  • Perubahan itu umumnya lebih gampang jikalau anda menghadapinya secara bertahap.

Meski beberapa perubahan besar dalam hidup mungkin menyerang anda tanpa peringatan, tapi akan membantu untuk menghadapinya selangkah demi selangkah. Anda tidak harus menghadapi semuanya sekaligus.

Anda bisa bergerak dengan kecepatan yang anda pilih untuk mengadaptasi realitas-realitas baru. Berikan diri anda waktu yang dibutuhkan untuk mengijinkan cara-cara gres semoga menjadi lebih familiar dan nyaman.

Jadi pertanyaannya bukanlah apakah anda akan berubah, melainkan berapa banyak dan dalam cara yang bagaimana.

Akankah anda berubah tanpa kesadaran atau kemauan—hanya membiarkan perubahan terjadi tanpa kejelasan atau pemikiran atau pilihan?

Atau akankah anda mengevaluasi dan menyambut perubahan dengan mata dan pikiran terbuka?

Menghadapi Perubahan dengan Sikap yang Tepat

Sama menyerupai setiap perubahan yang ingin anda capai—entah itu perihal mencar ilmu untuk menggali rasa percaya diri atau mencar ilmu untuk membuat keputusan-keputusan yang lebih baik—ada tiga syarat awal untuk mengendalikan rasa takut:

1. Mengakui Rasa Takut Sebagai Suatu Sikap Inti

Untuk melaksanakan perubahan yang bermakna, anda harus jujur pada diri sendiri. Anda harus berhenti menyalahkan orang lain atas kesulitan anda. Anda perlu berhenti membenarkan rasa takut anda, berhenti percaya bahwa anda tidak punya pilihan lain selain hidup dalam ketakutan.

Anda perlu mengakui bahwa rasa khawatir yang kronis, kepercayaan yang pesimis, pemikiran yang obesif, tidak adanya keputusan, dan suatu kebutuhan tak berujung untuk mengontrol, itu yakni gejala-gejala dari rasa takut maladaptive.

Dengan mengakui problem membuat anda bisa mengenali bagaimana rasa takut telah membatasi pilihan-pilihan anda, menghisap habis energi anda, dan menghambat kemampuan anda untuk berkembang.

2. Sadari Bahwa Anda Bisa Berubah

Orang umumnya tidak suka menjalani hidup yang penuh kecemasan, terbebani oleh ketakutan. Tapi mereka merasa bahwa mereka tidak punya pilihan lain.

Jika anda masuk ke dalam kategori ini, anda mungkin percaya bahwa rasa takut anda itu yakni kecenderungan dari kepribadian anda, bahwa itu yakni “apa adanya diri anda” dan bahwa anda tidak bisa melaksanakan apapun untuk mengubahnya.

Saya anjurkan anda untuk memandang rasa takut bukan sebagai sifat yang mantap, melainkan suatu sikap, suatu kecenderungan, suatu watak, suatu pola hidup yang bisa anda ubah.

Sama menyerupai anda bisa mendapakan skill-skill fisik, kecerdasan, dan emosional—dari mengendalikan emosi untuk mempelajari teknik-teknik pengendalian diri—anda juga bisa mendapatkan skill-skill yang membantu anda untuk tetap hening dan menanamkan keberanian.

Percaya bahwa anda bisa mengubah pola hidup anda berarti anda tidak lagi bergantung pada keajaiban atau khayalan—“Andai saja hidup ku berbeda,” “Andai saja saya terlahir sebagai orang yang pemberani,” “Dimana orang yang akan menyelamatkan ku?”—dan menempatkan anda di bangku pengendali.

3. Menyambut Perubahan

Terakhir, perrsiapan untuk berubah itu menyertakan suatu keputusan untuk menyambut perubahan. Anda sudah usang hidup dalam ketakutan; kini waktunya untuk menjelajahi cara lain untuk menjalani hidup.

Sekarang waktunya untuk berpindah dari ketidak berdayaan (“Inilah diri ku; Aku tidak bisa berubah atau bahkan mengadaptasi, mengubah, atau menghilangkan respon-respon ku”) ke impian (“Aku yakni orang yang berkembang, dinamis, cerdas, yang tidak harus terus terperangkap; Aku bisa memodifikasi, memperbaiki, dan mengubah respon-respon rasa takut ku”).

Sekarang waktunya untuk bergerak dari fokus pada kelemahan-kelemahan anda (“Aku tidak bisa melaksanakan ini”) ke fokus pada kelebihan-kelebihan anda (“Aku bisa melaksanakan ini”).

Sama menyerupai banyak hal, skill-skill yang akan anda pelajari di sini akan membutuhkan waktu untuk dipahami, diterapkan, dan dikuasai. Butuh waktu untuk menangkap konsep-konsep gres dan berbagi skill-skill baru.

Juga butuh waktu untuk menghargai bagaimana mendapatkan skill-skill ini akan membantu mengubah hidup anda. Bersabarlah dan miliki keyakinan bahwa anda akan hingga ke kawasan yang ingin anda tuju.

Berbagai Rintangan di Jalan Menuju Perubahan

Ini bukanlah berarti bahwa anda akan datang ditempat tujuan tanpa berhadapan dengan naik turunnya gelombang yang menghadang. Peringatan yakni persiapan. Berikut ini beberapa kesulitan umum yang mungkin akan anda hadapi.

Jalan yang Bergelombang

Tidak peduli betapa pun anda menyampaikan bahwa anda termotivasi untuk berubah, tapi anda bisa merasa yakin bahwa rasa takut anda akan menyerang. Anda mungkin bukan cuma akan merasa ragu dengan perjuangan yang dibutuhkan untuk berubah, tapi juga merasa ragu dengan keinginan untuk menjadi berani. Kenapa?

Karena apa yang anda inginkan secara sadar mungkin bukanlah acara utama dari keinginan bawah sadar anda. Mungkin ada sebagian dari diri anda yang tidak ingin berkembang dan harus berhadapan dengan situasi yang menakutkan, beresiko dan tidak menentu.

Mungkin anda hanya ingin problem anda diatasi oleh orang lain atau berharap mendapatkannya tanpa harus bersusah payah, keamanan tanpa resiko, dan perubahan tanpa usaha.

Terkadang motivasi anda naik turun dalam mengejar proses perubahan. Anda mungkin merasa seperti terperangkap dengan problem yang sama dalam cara yang sama. Anda mungkin merasa gelisah, terganggu, atau tidak sabar dengan diri sendiri atau orang lain.

Anda mungkin merasa hening dan nyaman selama satu minggu, kemudian merasa resah perihal apakah anda sudah mengalami kemajuan. Anda mungkin berada diluar jalur. Anda mungkin merasa bahwa jalannya terlalu menanjak atau jauh, atau bahwa anda sudah mencapai titik batas dan tidak bisa pergi lebih jauh lagi.

Tenanglah. Perubahan itu rumit, dan yakni masuk akal bagi orang-orang untuk merasa bahwa perkembangan mereka tidak mantap atau mulus. Bahkan, jalan untuk perubahan itu lebih sering tidak rata dan mulus.

Kemunduran akan terjadi, tapi itu tidak berarti anda sudah kalah, melainkan anda cuma perlu kembali ke jalur dan tekun. Yakini prosesnya. Bersabarlah. Perubahan itu hampir selalu terjadi secara perlahan dan bertahap, sedikit demi sedikit, tidak terjadi secara sekaligus kemudian mengubah diri anda untuk selama-lamanya.

Frustasi, bingung, dan ragu itu wajar. Jangan biarkan semua itu menghentikan anda untuk terus bergerak maju.

Lupakan Apa yang Sudah Anda Pelajari

Fears are educated into us and can, if we wish, be educated out.

—Karl Menninger, M.D.

Kecuali jikalau anda gres dilahirkan kemarin, berarti anda tampaknya harus melupakan beberapa hal yang sudah anda pelajari. Ini benar untuk hal-hal besar, contohnya melupakan respon rasa takut, dan ini juga benar untuk hal-hal kecil, contohnya mencoba masakan gres dari pada menolaknya secara otomatis.

Anda mungkin enggan untuk mengubah cara anda berpikir. Anda mungkin menjauh dari kebutuhan untuk mengubah sikap yang telah tertanam di dalam kepribadian anda.

Tapi jauh di dalam, anda tahu bahwa jikalau anda terus melaksanakan hal yang sama dengan cara yang sama, maka anda akan selalu berakhir ditempat yang sama. Dan anda benar-benar tidak ingin terus terperangkap dalam ketakutan, betul?

Ingat, anda tidak harus merasa suka untuk melupakan cara-cara lama; anda hanya harus melakukannya. Kenapa? Karena perulangan yakni satu-satunya cara untuk berubah.

Khawatir Tentang “Kantung-kantung Ketidak tahuan”

Mungkin rasa takut anda untuk berubah itu di dasarkan pada ke khawatiran bahwa situasi-situasi gres akan mengekspose ketidak tahuan anda pada orang lain.

Dengan orang-orang baru, aktivitas-aktivitas baru, atau percakapan-percakapan baru, anda mungkin takut bahwa anda orang lain akan mengetahui betapa tidak layaknya atau tidak kompetennya diri anda sebenarnya.

Selama bertahun-tahun, saya memperhatikan bahwa semua orang—tanpa kecuali—memiliki apa yang saya sebut “kantung-kantung ketidak tahuan.” Yaitu seperti anda bolos selama satu ahad di kelas 3 Sekolah Menengah Pertama dan entah bagaimana anda tidak pernah menerima pelajaran yang menjadi bab dari kurikulum ahad tersebut.

Atau anda berlibur selama satu ahad hingga ketinggalan berita-berita penting, sehingga anda tidak tahu apa yang tampaknya diketahui semua orang. Mungkin anda tidak pernah mempelajari apa arti kata “paradoxical.” Atau mungkin anda tidak tahu siapa itu Luciano Pavarotti.

Atau mungkin anda tidak pernah tahu apa yang anda tidak ketahui, hingga orang lain mulai membicarakan sesuatu dan anda merasa tidak tahu apa-apa.

Dan kini anda merasa malu bahwa orang lain akan mengetahuinya, sehingga anda menjauhi situasi atau percakapan tertentu. Pada akhirnya, menghindar jadi suatu kebiasaan. Hingga tanpa anda sadari, anda sudah menghilangkan salah satu aspek dari kehidupan anda.

Hidup bukanlah suatu perlombaan dimana orang yang paling banyak tahu lah yang menang. Yang lebih penting itu yakni terus berkembang dan belajar. Kekalahan bahwasanya yakni ketika anda sama sekali melarikan diri, takut bahwa ketidak tahuan anda akan diketahui orang lain.

Mengabaikan Apa yang Anda Ketahui Secara Tidak Sadar

Cara lain dimana anda mungkin menghalangi proses perubahan yakni dengan mengabaikan apa yang anda ketahi secara tidak sadar atau secara insting.

Saya yakin ada banyak hal yang anda ketahui, tapi anda tidak benar-benar tahu bahwa anda mengetahuinya hingga orang lain mengatakannya.

Saat anda mencar ilmu untuk menghormati pengetahuan bawah sadar, maka perubahan akan menjadi lebih gampang bagi anda, alasannya anda akan bisa untuk menghilangkan apa yang jadi problem yang sebenarnya.

Gary mengatakannya dengan sangat baik ketika ia menyatakan, “Ada banyak hal yang saya pelajari dalam terapi yang sudah saya ketahui tapi tidak bisa saya akses. Aku mengetahuinya pada level tidak sadar. Aku tidak benar-benar jernih atau fokus mengenai itu hingga andal terapi ku mengungkapkannya secara terbuka.”

Kemudian ia menunjukkan suatu contoh. “Aku biasanya merasa tidak nyaman ketika bersama adik tiri ku, tapi saya tidak pernah tahu kenapa. Ahli terapi ku mengatakan, ‘Dia terdengar menyerupai orang yang mengintimidasi. Saat ia menyampaikan sesuatu, anda terdiam. Dugaan saya yakni anda merasa bahwa anda tidak bisa menyaingi dia.’ Begitu andal terapi ku menyampaikan itu, saya tahu bahwa itu benar.”

Begitu Gary memahami masalahnya, kerentanannya jadi berkurang. Bahkan sekalipun ia tidak melaksanakan apapun, tapi setidaknya ia sudah tahu apa yang terjadi, dan bisa, jikalau ia mau, berbagi suatu arah agresi untuk menghadapinya. 

Saat anda mulai mempercayai apa yang anda tahu dibawah permukaan, maka anda akan merasa perubahan itu lebih mudah.

Apakah Anda Sudah Siap?

Sekarang waktunya untuk menyingsingkan lengan baju dan mulai mempelajari skill-skill yang akan membantu anda mengendalikan rasa takut, mengalahkan ke khawatiran, dan menikmati hidup.

“Tidak ada yang akan pernah berusaha,” tulis Samuel Johnson, “jika semua kemungkinan penolakan harus lebih dulu diatasi.” Sama menyerupai pernyataan ini benar untuk begitu banyak aspek dari kehidupan, pernyataan ini juga benar untuk mengatasi rasa takut anda.

Anda mungkin mempunyai semua jenis alasan untuk kenapa anda tidak bisa berubah. Anda tahu alasan-alasan anda. Anda terlalu sibuk. Anda tidak yakin apakah anda akan sukses. Anda tidak punya harapan. Anda khawatir perihal dampaknya. Anda takut. Tentu saja anda takut, tapi itulah kenapa anda perlu membuat komitmen.

Tapi begitu anda sudah mulai mengambil beberapa langkah pertama, maka proses perubahan tampaknya akan jauh lebih gampang dibanding ketika anda bangun di garis start tanpa suatu petunjuk untuk sukses. Melangkahlah dengan yakin. Baca terus tulisan-tulisan berikut ini!


Baca Juga: 10 Rekomendasi Karakter serta Kelas Terkuat di Lineage 2: Revolution

Langkah-Langkah Untuk Mengendalikan Pikiran Anda

Pernahkah anda mengambil suatu kursus ihwal cara mengontrol pikiran anda secara aktif? Pernahkah anda membaca sebuah buku ihwal bagaimana cara berpikir?

Orang umumnya menerka bahwa mereka sudah mempelajari cara berpikir di sekolah dan mempelajari warta ihwal dunia. Tapi sekolah biasanya hanya mengajarkan anda satu cara untuk berpikir, yaitu mencari balasan yang benar.

Untuk alasan tersebut, anda mungkin merasa tidak perlu untuk memikirkan ihwal berpikir begitu anda sudah mendapatkan balasan yang benar. Tidak ada kebutuhan untuk merenungkan ide-ide yang anda miliki atau kepercayaan yang anda pertahankan. Tidak ada kebutuhan untuk mengupdate skill-skill cara anda berpikir.

Tapi berikut ini duduk masalah yang ditimbulkan dari pendekatan ini. Selama masa dewasa, anda harus berhadapan dengan ambiguity dari kehidupan, banyak sekali tantangan yang tidak cuma punya satu jabawan benar, dan banyak sekali duduk masalah yang tidak punya solusi.

Anda perlu mencari banyak sekali cara untuk memperkuat dan berbagi anutan anda dalam berhadapan dengan perubahan konstan, naik turun, dan kehidupan yang penuh tekanan dan ketegangan yang tidak punya satu balasan simpel. Jika tidak, maka hampir bisa dipastikan bahwa anda akan hidup dalam ketakutan.

Menurut saya menarik bahwa di aspek lain dari kehidupan, penting kebugaran fisik itu diterima dengan baik. Saya tidak akan heran kalau anda punya kegiatan kebugaran fisik tersendiri. Mungkin anda berolahraga di rumah, atau sudah bergabung di fitness center, atau anda berlatih dengan seorang instruktur pribadi.

Saya tidak akan heran, juga, kalau anda menyediakan waktu untuk menambah pengetahuan anda dengan membaca buku-buku mengenai cara mengatur keuangan atau berkonsultasi dengan seorang perencana keuangan.

Di tahun-tahun belakangan ini, tampaknya anda juga mungkin sudah banyak mempelajari ihwal administrasi berat badan, administrasi waktu, dan administrasi keuangan.

Tapi bagaimana dengan administrasi pikiran? Manajemen pemikiran? Saya yakin anda belum menganggapnya penting.

Saya percaya bahwa kalau anda belum meningkatkan skill-skill cara berpikir anda, maka sangat mungkin anda akan berpikir dalam cara yang lebih baik dipakai unutk menuntaskan duduk masalah kanak-kanak dibanding duduk masalah orang dewasa.

Apakah anda ingat bagaimana anda memikirkan ihwal dunia ketika anda masih kecil?

Sama menyerupai anak muda pada umumnya, anda mungkin memikirkan ihwal banyak sekali kejadian, situasi dan orang-orang dalam terminologi semua atau tidak sama sekali. Anda baik atau buruk, melaksanakan sesuatu yang salah atau benar, dan berada “di dalam” kelompok atau “di luar” kelompok.

Kisah-kisah kisah juga mengoptimalkan cara berpikir hitam putih ini, dengan penyihir baik dan penyihir jahat, peri yang baik dan ibu tiri yang jahat, orang-orang baik dan orang-orang jahat. Akhir yang “bahagia selama-lamanya” berkontribusi pada jenis anutan yang sederhana ini.

Kita umumnya pernah mempelajari aksioma, “Bukan apa yang anda katakan, melainkan cara anda mengatakannya.” Kata-kata tersebut membantu kita untuk lebih sadar akan bahasa kita dan efeknya pada orang lain.

Tapi pernahkah anda mendengar aksioma “Bukan apa yang anda pikirkan, melainkan cara anda memikirkannya?”

Coba pikirkan! Cara anda berpikir mempunyai suatu imbas yang luar biasa pada anda dan cara anda bereaksi terhadap dunia. Proses berpikir itu entah akan menambah ketakutan anda atau menghilangkannya.

Keputusan Besar, Keputusan Kecil

Suatu belahan yang sangat penting dari administrasi pikiran ialah mempunyai kemampuan untuk menciptakan kepurusan-keputusan yang baik tanpa merasa cemas yang berlebihan.

Kehidupan modern menyampaikan pilihan yang lebih banyak pada kita dibanding sebelumnya, yang menjadi anugrah atau malah kutukan. Beberapa pilihan itu bermanfaat, sedangkan yang lain hanya mengganggu, membingungkan kita, atau menciptakan hidup jadi lebih sulit.

Kehidupan modern menyampaikan banyak situasi dimana dengan begitu banyaknya pilihan yang ada, mungkin akan gampang menciptakan kita merasa kewalahan.

Itu mungkin hanya masalah-masalah kecil, sesuatu yang anda tahu tidak akan menyampaikan dampak yang besar tapi menjadikan anda menghabiskan banyak waktu dan energi yang jauh lebih banyak dari yang sewajarnya.

Mungkin anda perlu membeli pakaian. Haruskah saya membeli yang ini atau yang itu? Apakah ini terlalu mahal? Haruskan saya mencarinya ditempat lain?

Tidak bisa mengambil keputusan bisa mengarah pada sama sekali tidak adanya keputusan, menjadi kecewa dengan keputusan yang sudah dibuat, atau menciptakan keputusan secara terburu-buru, contohnya pengeluaran yang berlebihan.

Bagaimana dengan keputusan-keputusan yang lebih substansial—entah itu menemukan suatu pekerjaan yang lebih menantang, entah itu menikah, entah itu bercerai, atau entah itu punya anak? Aku tidak tahu apakah ini waktu yang tepat. . . .  Aku begitu takut saya tidak bisa menghandle tanggung jawabnya. . . . Aku sangat takut saya akan menciptakan keputusan yang salah. . . . Saat ini usia ku sudah 40 tahun—mungkin sudah terlambat! Seharusnya saya mengambil langkah ini lebih awal, menciptakan pilihan yang berbeda, merencanakannya dengan lebih baik, memikirkannya dengan matang. . . .

Dengan semua kebingungan tersebut muncullah kepanikan dan rasa takut, tapi anda tetap tidak bisa tetapkan apa yang ingin anda lakukan.

Bagaimana anda bisa berhadapan dengan begitu banyaknya anutan yang saling bertentangan? Bagaimana anda bisa mendisiplikan pikiran semoga menjadi lebih tegas? Bagaimana anda bisa berpikir kritis dan kreatif untuk menciptakan pilihan-pilihan yang lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan tesebut sangat vital dalam sebuah budaya yang menyediakan kita begitu banyak pilihan—mungkin jauh lebih banyak dibanding yang benar-benar kita butuhkan.

Pengambilan keputusan yang baik dan pikiran yang disiplin itu tidaklah otomais, atau pasif. Melainkan skill-skill yang harus anda pelajari, update, dan perbaiki ketika anda memetakan arah hidup dan menemui tantangan-tantangan baru.

Tulisan ini akan membantu anda untuk melaksanakan itu.

Berpikir atau Terobsesi?

Salah satu skill paling penting yang bisa anda peroleh ketika anda menaklukkan rasa takut ialah berguru cara membedakan antara berpikir dengan terobsesi.

Andrea, yang cenderung untuk menjadi Hypervigilant (sangat waspada), berusaha keras untuk tidur tapi sangat kesulitan untuk menghilangkan ke khawatirannya.

Dia tidak bisa berhenti terobsesi ihwal segala hal. Tentang pakaian kotor yang perlu dicuci, kendaraan beroda empat gres yang ingin ia beli, kartu ulang tahun yang ia beli untuk adiknya tapi lupa ia kirimkan, kebocoran di dapur yang memerlukan perhatian, kerugian besar dalam sahamnya yang menyampaikan perasaan nyeri di perutnya.

“Aku tidak bisa berhenti memikirkan hal-hal ini,” katanya. “Itu menciptakan ku kacau. Aku tidak bisa tenang. Aku tidak bisa tidur, dan kemudian, sehabis gelisah sepanjang malam, saya merasa begitu kelelahan di pagi hari sehingga merasa sangat sulit untuk bangun.”

Proses berpikir Andrea yang berulang-ulang, tidak produktif itu bekerjsama sama sekali bukan berpikir, melainkan terobsesi, yang bekerjsama tidak menuntaskan duduk masalah yang sedang dihadapinya, dan meningkatkan serta memperkuat rasa takutnya. Obsesi ialah sebuah siklus berulang yang ia tidak bisa melepaskan diri darinya.

Berikut ini perbedaan utama antara berpikir dan terobsesi. Berpikir mencakup penalaran, perenungan, pertimbangan, penghubungan, penilaian, analisa, atau pengevaluasian suatu ide. Dia memakai pikiran anda dalam sebuah cara yang kreatif dan efektif.

Berpikir cenderung untuk menjadi produktif, berorientasi sasaran dan aksi. Beberapa bentuk berpikir antara lain berpikir rasional linier, penyelesaian masalah, brainstorming, dan berkhayal kreatif.
Salah satu teladan berpikir ialah ketika anda menimbang banyak sekali pilihan anda untuk mengikuti suatu kursus pendidikan.

Anda mempertimbangkan banyak sekali pilihan yang ada, menimbang banyak sekali kelebihan dan kekurangan dari kegiatan tertentu, membayangkan akan menyerupai kursus tertentu, dan memilah-milah banyak sekali duduk masalah mudah yang menyangkut transportasi dan pendanaan.

Sebaliknya, terobsesi ialah ketika pikiran anda sangat dikendalikan oleh satu emosi atau wangsit yang tidak bisa anda relakan. Terobsesi dimulai dengan Titik A tapi kembali lagi ke Titik A secara berulang-ulang.

Memang benar bahwa terobsesi itu ialah suatu bentuk dari berpikir, tapi itu ialah cara berpikir yang tidak efektif; ia berputar-putar diluar kendali, tapi akhinya datang ditempat yang sama menyerupai ketika anda memulai. Ini bukan cuma suatu proses yang tidak produktif, tapi juga kontra produktif.

Terobsesi itu selalu bekerjasama dengan kecemasan, sebab memikirkan pemikiran-pemikiran yang sama tanpa menerima satupun solusi yang bermanfaat. Ketakutan dan kepenatan tumbuh subur di dalam siklus tertutup dari obsesi.

Suatu teladan dari terobsesi ialah urutan kekhawatiran berikut ini:
“Aku benar-benar harus mengambil kegiatan kuliah, tapi yang mana? Ada begitu banyak program, saya bahkan tidak tahu dari mana memulainya! Ada komunitas kuliah lokal, tapi mungkin tidak cocok untuk ku. Dan sekolah pendidikan dewasa, tapi kegiatan tersebut tidak mengaah pada suatu gelar. 
Lagi pula apa yang harus saya pelajari? Apakah kegiatan bisnis? Program yang bekerjasama dengan kesehatan? Ilmu komputer? Sesuatu yang lain? Ada begitu banyak pilihan yang saya tidak tahu harus bagaimana. 
Mungkin forum teknis ialah yang paling tepat. Tapi saya tidak yakin bidang mana yang dipilih. Dan bagaimana saya akan membiayai kuliah ku? Mungkin dengan suatu pinjaman. Atau saya bisa mencoba beasiswa. Atau yang lain—oh saya galau harus bagaimana! 
Tapi saya benar-benar harus mengambil suatu kegiatan kuliah, haruskah saya mengambilnya? Aku merasa begitu bingung.”
Sskenario berikut ini menggambarkan bagaimana cara berpindah dari terobsesi menjadi berpikir, yang berakhir dengan suatu planning agresi yang memuaskan.

Kembali Bekerja

Katakanlah anda sedang berjuang keras memikirkan suatu keputusan ihwal apakah ketika ini akan kembali bekerja secara full-time sebab belum dewasa anda sudah lebih besar. Jika terobsesi dengan duduk masalah jenis ini bisa segera menjadi suatu latihan yang melelahkan, tanpa hasil.
“Aku benar-benar perlu berbagi karir ku, tapi bagaimana saya akan bisa melakukannya?” tanya anda pada diri sendiri. 
“Lagi pula, perusahaan mana yang mau mempekerjakan ku? Bagaimana tidak ada perusahaan yang mau mendapatkan ku? Aku tidak tahu cara memperbarui resume ku sehabis bertahun-tahun menjadi ibu rumah tangga. Aku begitu gugup. Aku tidak akan bisa mengatasi interview.”
Berbeda dengan obesesif ini ialah proses sirkular dengan memikirkan ihwal duduk masalah kembali bekerja.
Anda menyampaikan pada diri sendiri, “Nah, mari kita lihat. Ini ialah sebuah keputusan besar, tapi saya bisa membaginya ke dalam beberapa langkah, yang akan membuatnya jadi lebih gampang diatur. 
“Langkah Pertama: Aku akan mencari seseorang untuk membantu menyusuri semua kemungkinan. Aku punya sobat dan mantan rekan kerja yang bisa membantu ku untuk memperkirakan pilihan-pilihan ku. Aku akan menelpon dan melihat apa yang akan mereka katakan. 
Langkah Dua: Aku akan memperbarui resume ku dan menulis teladan kop surat. Aku bisa menyelesaikannya pada selesai minggu. Langkah Tiga: Proses interview mungkin akan sulit, tapi saya pernah melaksanakan sebelumnya, jadi kurasa saya bisa melakukannya lagi. 
Langkah Empat: Rencana ini kedengarannya bagus, dan saya tahu akan bermanfaat bagi ku dalam jangka panjang. Sekarang waktunya untuk menerapkan keputusan ini. 
Pertama-tama saya akan berbicara dengan sobat ku, kemudian mencari beberapa warta mengenai interview. Aku harus mengatur jadwal ku dan mendelegasikan sebagian dari kiprah rumah tangga, tapi saya juga bisa melaksanakan itu. 
 Dan meski terkadang hidup itu sangat melelahkan, tapi kita semua menyesuaikan diri.”
Seperti yang bisa anda lihat, proses berpikir ini tidak menciptakan masalah-masalah yang rumit menjadi hilang, melainkan menciptakan anda bisa menyortirnya secara lebih sistematis dan menghadapinya satu persatu dalam suatu cara yang lebih produktif.

Hindari Paralysis of Analysis

Jenis berpikir sia-sia lainnya yang berasal dari rasa takut ialah terjebak di dalam paralysis of analysis. Meksi sudah banyak melaksanakan penelitian, perenungan, dan perencanaan, tapi anda merasa belum juga bisa menciptakan keputusan atau mengambil langkah maju.

Paradoksnya, semakin banyak analisa yang anda lakukan, semakin galau jadinya.

Lebih Banyak Bukan Berarti Lebih Baik

Janice mengalami paralysis of analysis setiap kali mencoba mengambil keputusan mengenai sesuatu yang penting. Sebagai seseorang yang suka mengontrol, ia tidak menjadi terobsesi ihwal situasi apapun yang ia hadapi, tapi ia cuma terlalu banyak mengakumulasi informasi.

Hasilnya ialah bahwa ia menjadi macet ketika mencoba untuk memahami semuanya. Akhir-akhir ini, ia sedang mencoba untuk tetapkan di taman kanak-kanak mana Kenneth, yaitu anaknya yang berusia 4 tahun, akan bersekolah.
“Aku senang menjadi sistematis mengenai pilihan-pilihan ku,” kata Janice, “Jadi saya sudah banyak mengumpulkan data mengenai sekolah-sekolah yang ada di wilayah kami. Aku tidak ingin kehilangan satu pun kemungkinan. 
Selain itu, secara artistik Kenneth itu berbakat, dan saya ingin memastikan ia mengikuti taman kanak-kanan yang akan banyak memberikannya project-project menarik untuk menantangnnya.”
Awalnya, Janice merasa senang bisa menemukan lebih banyak sekolah dibanding yang ia harapkan. Tapi peningkatan jumlah dan variasinya telah berkembang jadi membingungkan.
“Ada begitu banyak! Sebagian saya temukan melalui yellow pages, selebihnya melalui rekomendasi, dan masih ada lagi data dari pencarian melalui Web. Kemudian saya menelpon tempat-tempat ini dan berbicara dengan banyak sekali administrator melalui telpon. 
Itu sungguh menyenangkan—Aku punya banyak sekali pilihan. Tapi program-programnya begitu berbeda! Aku galau untuk mencari tahu cara membandingkan antara satu dengan yang lain—atau bahkan apakah memang sebagian dari sekolah-sekolah ini bisa dibandingkan.”
Untuk menelusuri semua kemungkinan, Janice telah menciptakan sebuah tabel yang melisting attribut dari masing-masing sekolah, contohnya ukuran, biaya, rasio antara guru dan siswa, program-program spesial, dan seterusnya.

Tapi tampaknya bahwa semakin banyak data yang di kumpulkan, ia jadi semakin galau dan takut bahwa entah bagaimana ia akan melaksanakan kecerobohan dan mengirimkan Kenneth ke suatu sekolah yang tidak sesuai dengan kebutuhannya.

Cukup itu Cukup

Debbie gembira akan kompetensi dan kemampuannya dalam mengatasi banyak sekali kiprah dalam kehidupannya. Tapi selama mengerjakan suatu project untuk merenovasi kamar keluarganya, ia mendengar tudingan mengejutkan dari putrinya yang berusia 13 tahun.
“Jacqueline mengatakan, ‘Ma, Mama menciptakan kami bingung. Buatlah satu keputusan dan berhentilah menciptakan semua orang kesal. Maksud ku, inikan cuma kamar tidur!’
Dan saya menyadari bahwa ia benar. Aku benar-benar dikuasai oleh project tersebut. Setiap hari ialah suatu krisis baru. 
Ada keputusan lain yang harus dibuat, dan saya begitu galau ihwal pilihan yang terbaik sehingga saya menciptakan semua orang menjadi kesal—bukan cuma keluarga ku tapi juga dekorator dan asistennya. 
Aku terus mengubah pikiran ku setiap hari dan merasa tidak puas dengan pilihan-pilihan yang sudah saya buat.”
Realisasi ini mengarah pada beberapa pemahaman penting.
“Aku sadar analisa ku secara terus menerus itu menciptakan ku kehilangan antusiasme terhadap project,” kata Debbie. Aku sangat sengsara ketika merehab kamar tidur dan itu memalukan sebab saya sudah menantikan project ini selama bertahun-tahun. 
Saat itulah saya menyadari bahwa saya harus tenang. Jika tidak, saya bisa merusak semuanya. Rasanya angker untuk benar-benar merelakan dan mengatakan, Oke, ini ialah pilihan ku—tidak ada lagi perubahan. Itu sulit bagi ku sebab saya senang mengatur setiap detil kecil dari suatu project. 
Tapi saya menyadari bahwa saya tidak tahu kapan waktunya untuk berhenti. Aku perlu ingat bahwa dekorator yang saya pilih itu punya reputasi yang bagus. Jadi, kepada tidak mempercayainya untuk benar-benar menuntaskan tugasnya?
Aku tidak perlu menebak-nebak semua tindakannya dan menganalisa semua yang sedang dilakukannya.”
Rekomendasi saya dalam situasi menyerupai ini ialah menjadi lebih pandai dengan mengurangi anutan ihwal masalah-masalah yang merisaukan anda. Adalah hal yang mungkin bahwa anda telah keliru dengan menerka bahwa makin banyak memikirkannya itu makin baik.

Makin banyak berpikir itu mungkin hanya menciptakan makin bingung. Terlalu banyak pilihan, terlalu banyak analisa, dan terlalu banyak harapan bisa meningkatkan paralysis anda.

Jangan merasa bahwa anda memerlukan semua detil data untuk menciptakan keputusan. Jangan berasumsi bahwa memperpanjang analisa data itu akan selalu menyampaikan hasil yang lebih baik.

Semua analisa mencapai suatu titik hasil yang menurun, dan sebagian dari keputusan yang baik itu mengambil kawasan dalam waktu yang relatif lebih cepat, baik menurut pada intuisi maupun penaksiran data yang tak berujung.

Brainstorm Dalam Arah yang Berlawanan

“Aku benci pekerjaan ku,” kata Marianne. “Aku ingin berhenti, tapi saya takut. Aku punya suatu pekerjaan yang menciptakan ku bisa memenuhi kebutuhan dan menyampaikan ku asuransi kesehatan, status, dan tanggung jawab. Aku merasa khawatir ihwal merelakan semua laba tersebut, sehingga saya melaksanakan kesalahan pada sisi kehati-hatian.”

“Bagaimana kalau anda tidak melaksanakan kesalahan pada sisi kehati-hatian?” tanya temannya. “Bagaimana kalau anda melaksanakan kekeliruan pada sisi resiko? Lalu apa yang akan anda lakukan?”

Sebuah senyuman segera tampak di wajahnya. Dengan girang ia mengatakan, “Aku akan berhenti dari pekerjaan ku hari ini, melaksanakan liburan selama satu bulan, dan sehabis itu memulai bisnis ku sendiri.”
Tapi akhirnya, Marianne tidak jadi berhenti dari pekerjaannya hari itu, tapi ia memang berhenti enam bulan kemudian. Dia melaksanakan kesalahan pada sisi resiko—dan itu menyampaikan hasil yang baik baginya.

Saat ini ia ialah pemilik dari sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang humas. Dia menyukai pekerjaannya, dan ia mendengar dari beberapa orang di perusahaan PR lamanya yang, kemudian ternyata, di PHK.

“Siapa yang akan tahu bahwa ketika saya mengambil resiko itu,” kata Marianne, “itu bukan cuma hal terbaik yang saya lakukan pada diri sendiri, tapi juga ternyata saya berada pada posisi yang jauh lebih ringan dibanding teman-teman ku yang tetap bekerja pada perusahaan.”

Tapi brainstorming bukanlah sekedar suatu proses berpikir dalam arah yang berlawanan. Tapi ia juga bermanfaat sebagai suatu metode untuk menghasilkan banyak kemungkinan solusi dari suatu masalah.

Anda bisa melakukannya sendirian, dengan seorang teman, atau dalam suatu kelompok kecil, contohnya keluarga anda. Penting untuk tidak menolak suatu kemungkinan solusi hanya sebab terdengar konyol atau sangat sulit untuk dilakukan.

Dengan brainstorming, anda bisa membiarkan pikiran untuk melayang ke arah manapun semoga bisa menghasilkan kemungkinan solusi (tidak harus realistis atau mungkin). Jika anda bisa melaksanakan suatu perjuangan untuk mengubah cara anda berpikir, maka hasilnya mungkin akan menciptakan anda terkejut.

Sepertinya bahwa anda akan membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah terpikirkan, kemungkinan yang mungkin membawa anda kearah gres yang menggairahkan. Brainstorming memperkaya anutan anda. Itu gampang untuk dilakukan.

Tidak ada ruginya untuk mempertimbangkan banyak sekali alternatif, dan anda bisa melakukannya secara gratis.

Membingkai Ulang Situasi

Orang umumnya tumbuh cendekia balig cukup akal dengan anutan bahwa apa yang mereka asumsikan untuk menjadi benar itu, pasti, benar.

Mereka tidak menyadari bahwa kita semua membentuk realitas yang menurut pada pengalaman, sejarah keluarga kita, sensitivitas biologis kita, budaya dan agama kita, prasangkan kita, kecenderungan kita, dan jaringan sosial kita.

Kita tidak hanya hidup di dalam dunia—secara aktif kita memaknai dunia dan pengalaman kita di dalam dunia dalam sebuah cara yang kita anggap natural. Apapun yang berada diluar jalur kita kemudian kita anggap tidak natural.

Pemaknaan pengalaman kita ini dirujuk sebagai framing (membingkai). Secara aktif mengubah pemaknaan anda itu disebut reframing (membingkai ulang).

Membangun Sebuah Realitas Baru

Berikut ini sebuah teladan yang saya harap bisa anda hubungkan. Kita semua tahu orang-orang yang memandang gelas setengah penuh dan sebagian lain yang memandangnya sebagai setengah kosong.

Kita menyebut yang pertama sebagai optimis dan yang kedua sebagai pesimis. Siapa yang benar? Jika anda menentukan optimis, selama! Anda menentukan balasan yang benar.

Jika anda menentukan pesimis, selama juga untuk anda! Anda juga menentukan balasan yang benar! Bisakah ada dua balasan yang benar? Tentu saja, tergantung cara anda mengartikan dunia anda.

Jika anda ingin berubah dari pesimis menjadi optimis, atau dari orang yang gugup menjadi orang yang tenang, anda perlu berguru cara untuk me-reframe. Dalam sebagian besar situasi, yang penting itu bukanlah realitas contohnya (ada 4 ons air di dalam gelas) melainkan cara anda memandang realitas.

Apakah anda mengartikan sesuatu sebagai baik atau buruk? Apakah anda memandang pada apa yang anda miliki atau yang tidak anda miliki?

Jika anda hidup dalam ketakutan, anda sudah berbagi suatu framework dimana anda terbiasa dan secara otomatis memandang situasi sebagai menakutkan—entah situasi tersebut memang angker atau tidak.

Sekarang waktunya untuk menghentikan kebiasaan situasi melalui sebuah lensa ramalan dan mulai memandang situasi yang sama dalam perilaku yang berbeda. Berikut ini salah satu cara untuk melakukannya.

Anda telah diminta untuk mengajarkan suatu kegiatan komputer kepada para supervisor di dalam perusahaan anda. Frame original: Menakutkan! Pemikiran-pemikiran yang menyertai frame ini:
  • Aku tidak bisa melaksanakan ini!
  • Bagaimana caranya semoga saya bisa menghindari ini?
  • Aku akan mempermalukan diri ku sendiri!
  • Kenapa harus aku?
Dari pada terus mengartikan situasi ini sebagai suatu masalah, hentikan proses berpikir anda. Sekarang reframe. Bentangkan imajinasi dan pikiran anda: bagaimana saya bisa memandang situasi ini dengan cara yang berbeda? Reframe: menggairahkan! Pemikiran-pemikiran yang menyertai reframe:
  • Suatu peluang yang sangat bagus!
  • Bagaimana caranya semoga saya bisa membuatnya berhasil?
  • Ini ialah suatu kesempatan yang sangat bagus.
  • Ini ialah peluang ku semoga bisa menonjol.
Saat anda membingkai ulang suatu situasi, selain untuk memandang realitas anda secara berbeda, anda juga mungkin perlu melaksanakan sesuatu yang berbeda untuk menciptakan interpretasi gres menjadi sukses.

Dalam teladan sebelumnya, mengubah frame anda dari angker menjadi menggairahkan ialah belahan awal dari proses. Bagian kedua ialah bekerja keras untuk memastikan bahwa, memang, anda menonjol.

Jika anda lalai untuk mengambil agresi yang mendukung anutan gres anda, itu mungkin akan menjadi bumerang bagi anda, menciptakan anda jadi lebih memihak pada interpretasi awal anda (“Benar bukan, itu menakutkan. Aku benar-benar tidak bisa melakukannya.”)

Tapi di ketika lain, reframing tidak memerlukan agresi pendukung, hanya sekedar menikmati suatu cara inovatif untuk berpikir.

Anda ingin berguru cara-cara kreatif untuk membingkai ulang suatu situasi? Dengarkan belum dewasa kecil yang belum di basuh otaknya untuk berpikir bahwa semuanya mempunyai suatu balasan benar—dan balasan benar itu ialah apa yang dipikirkan oleh orang lain.

Bebaskan Diri Anda dari Hasil

Sampai satu generasi yang lalu, orang umumnya berasumsi bahwa mereka tidak bisa mengontrol hasil dari banyak insiden dalam hidup. Orang-orang mendapatkan bahwa kejadian-kejadian itu terjadi begitu saja; anda tidak membuatnya terjadi.

Misalnya belum dewasa “lahir,” mereka tidak direncanakan. Anda tidak bersusah payah menentukan karir ideal, anda hanya “mendapat suatu pekerjaan.” Tapi ketika ini, sebab kita memang miliki kendali lebih banyak atas hidup, kita merasa murung ketika kita tidak bisa mengontrol nasib kita.

Jika anda bisa membebaskan diri dari berharap bahwa hasilnya harus selalu menguntungkan anda, maka rasa takut anda akan menghilang. Ini tidak berarti bahwa anda harus menjadi tidak peduli terhadap apa yang terjadi sebagai hasil dari pilihan dan agresi anda.

Melainkan, itu berarti bahwa anda perlu mendapatkan realitas berikut ini: Meski anda bisa menciptakan keputusan dan agresi dalam merespon suatu situasi, tapi anda tidak bisa memaksakan suatu insiden tertentu semoga terjadi. Anda tidak bisa selalu berada dalam kontrol.

Tenangkan Pikiran

Praktis untuk menyampaikan “Tenang saja,” tapi bagi banyak orang, itu benar-benar suatu hal yang sulit untuk di lakukan. Namun, itu tetap suatu sasaran yang sangat baik untuk dikejar.

Jika anda bisa memperoleh suatu kondisi pikiran yang tenang, maka kemungkinan anda untuk terjebak dalam pola anutan obsesif jadi berkurang. Anda akan berpikir lebih jernih dan punya energi lebih banyak sebab anda menghadapi situasi dengan banyak sekali pilihan dan keputusan yang lebih matang.

Baca Juga: 4 Cara Memperbaiki Kartu Memori yang Rusak